<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Anomali.net</title>
	<atom:link href="http://anomali.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://anomali.net</link>
	<description>Be Different, Be Anomali.</description>
	<lastBuildDate>Fri, 19 Jun 2009 03:57:49 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Failed</title>
		<link>http://anomali.net/2009/06/19/failed/</link>
		<comments>http://anomali.net/2009/06/19/failed/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Jun 2009 03:57:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dixcy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anomali.net/?p=1227</guid>
		<description><![CDATA[Malu rasanya berbicara tentang kegagalan&#8230;
Yup aku gagal untuk kesekian kalinya aku gagal&#8230;
Walaupun tak sebesar dulu&#8230;
Aku pun tau ini memang tak sepenuhnya salahku
Aku tak pernah berhenti dan menyerah&#8230;
Walau aku terluka cukup parah… tapi… itulah…
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Malu rasanya berbicara tentang kegagalan&#8230;</p>
<p>Yup aku gagal untuk kesekian kalinya aku gagal&#8230;</p>
<p>Walaupun tak sebesar dulu&#8230;<span id="more-1227"></span></p>
<p>Aku pun tau ini memang tak sepenuhnya salahku</p>
<p>Aku tak pernah berhenti dan menyerah&#8230;</p>
<p>Walau aku terluka cukup parah… tapi… itulah…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anomali.net/2009/06/19/failed/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>T.I.V.I</title>
		<link>http://anomali.net/2009/05/25/tivi/</link>
		<comments>http://anomali.net/2009/05/25/tivi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 May 2009 14:37:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anomali.net/?p=1222</guid>
		<description><![CDATA[Uhh, Semenjak punya hobi baru nonton CSI, saya jadi sering mimpi buruk yang aneh-aneh. Mulai dari mimpi dikejar-kejar setan berwujud Suzanna, sampai mimpi dikejar-kejar gerombolan PKI [wew, CSI bikin memori buruk zaman SD dulu soal PKI dan filmnya “G/30 S PKI” muncul lagi. Sungguh, ga ada film yang lebih horror dari film itu waktu zaman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Uhh, Semenjak punya hobi baru nonton CSI, saya jadi sering mimpi buruk yang aneh-aneh<span id="more-1222"></span>. Mulai dari mimpi dikejar-kejar setan berwujud Suzanna, sampai mimpi dikejar-kejar gerombolan PKI [wew, CSI bikin memori buruk zaman SD dulu soal PKI dan filmnya “G/30 S PKI” muncul lagi. Sungguh, ga ada film yang lebih horror dari film itu waktu zaman SD dulu. Herannya guru-guru saya dulu anteng banget selalu minta resume film itu tiap hari kesaktian pancasila, tanpa peduli betapa scary-nya film itu untuk anak SD seperti saya].</p>
<p>Jadilah saya menjadi paranoid tiap kali habis nonton CSI, jadi susah tidur dan lebih banyak merokok, huhu…walaupun sebenarnya CSI tuh ga horror-horror bgt, seru malah. Cuman adegan otopsi mayat yang jadi salah satu “sajian utama” di setiap episode-nya itu yang agak sedikit mengganggu saya,hiiihh….saya ga suka mayat pucat setengah beku di ruang otopsi, apalagi yang berdarah-darah gitu, belum ruang otopsi-nya yang selalu kurang cahaya! Huahh…itu sebabnya saya ga pernah bercita-cita jadi dokter!.</p>
<p>Segera matikan tivi dan pergi tidur saja nak! Hahaha..</p>
<p>***<br />
Televisi, Kotak ajaib yang sekarang menjadi semakin ajaib dengan bersimbiosis dengan inang baru berupa handphone, hehe… Sudah sering saya mendengar keburukan tentang benda ini. Mulai dari tulisan ilmiah para scientist, sampai celoteh punker yang menyatakan tivi adalah pembodohan karena dia seorang anti-sinetronisme [ saya rasa si punker ini ga pernah nonton national geographic ato TPI waktu masih benar-benar menjadi “Televisi Pendidikan Indonesia” ^_^]</p>
<p>Well, kenapa banyak opini negatif tentang salah satu “anugerah” Tuhan di bidang tekhnologi ini dari pada opini positifnya? Terus terang saya bukan orang yang meng-amin-kan opini-opini negatif itu. Terutama opini yang saklak menjudge tivi adalah benda jahat jelmaan iblis yang mesti dihancurkan, dengan penilaian hanya berdasarkan analisa subjektif tentang beberapa program acara bermutu rendah, yang dari segi entertain pun sama sekali tidak menghibur. Hell no! Tivi tidak seburuk itu!!!</p>
<p>Jangan salahkan tivi kalo orang serumah anda begitu tergila-gila dengan-nya gara-gara sinetron, infotainment, crime news, telenovela (sekarang ga trend lagi yah? saya jadi ke ingat zaman Maria Marcedez ma Rosalinda dulu,fufufu..), ato semua acara yang memang pada dasarnya ada karena dibuat oleh orang-orang broadcast (istilah-nya tepat aja kan?) hanya untuk menaikan rating televisinya dan menambah saldo direkeningnya.<br />
Karena pada dasarnya, tivi hanya melakukan fungsinya sebagai media informasi. Sama dengan media informasi lainnya seperti buku, majalah, koran, radio, internet dan lain sebagainya. Toh dalam 24 jam tivi ga selalu di isi dengan acara-acara sampah itu juga. Masih banyak program acara yang mempunyai bobot lumayan ato bagus untuk mendidik atau sekedar menghibur.</p>
<p>Em, pernahkah anda bangun dan menyalakan televisi di jam-jam antara habis sholat subuh dan matahari terbit? Dimana seringkali acara-acara penyejuk rohani diputar? Well, kalo anda adalah seorang yang cukup pintar untuk memilah baik dan buruk tentu anda setuju kalo televisi ikut andil dalam perbaikan moral manusia. Dan tentu saja, ada banyak lagi program acara yang sama bagusnya dengan acara-acara rohani itu jika anda amati dengan jeli.</p>
<p>Seorang teman pernah beragumen kalo sebenarnya acara-acara “bagus” itu juga termasuk sebuah pembodohan, karena pada dasarnya semua itu cuma akal-akalan orang-orang broadcast tadi biar tivinya tetap ada yang nonton selama 24 jam, biar dia tetap bisa menayangkan commercial break dan terus menambah saldo rekening bank-nya. Aduhh….kenapa kita jadi mesti begitu bodoh memikirkan rezeki orang sih!? Biarkan Tuhan yang mengatur rezeki, kita cukup memilah acara tivi yang bermanfaat ato ga buat kita! Cukup! <br />
Kalo anda berfikiran seperti itu lebih baik anda membuang tivi, buku, majalah, dan semua bentuk media informasi yang anda punya saat ini, dan hidup menyepi di gunung!. Hehe…. </p>
<p>Jadi, pada dasarnya, kebaikan dan keburukan televisi itu adalah sesuatu yang relatif tergantung bagaimana kita menyikapinya. Jika kita cukup pintar untuk menyadari kalo duduk terlalu lama di depan televisi bisa berakibat buruk bagi kesehatan (terutama bagian pinggang saya rasa, fufuffufu :-p), kita tentu tau harus bagaimana. <br />
Ato kita tidak mau merasa bodoh dengan nonton acara-acara “sampah” yang menjijikan itu, cukup matikan saja televisinya, cukup bijak kan? Dan kita terlihat jadi cukup cerdas, haha….</p>
<p>So, Tivi bukanlah jelmaan iblis yang jahat kalo kita tau cara memanfaatkannya dengan benar. Adalah sesuatu yang bijak bila menghentikan pembodohan oleh televisi bukan dengan cara mengasingkannya, tetapi menjadikannya sesuatu yang bermanfaat.</p>
<p>***</p>
<p>Uhh….saya rasa terlalu addict nonton CSI ga baik buat saya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anomali.net/2009/05/25/tivi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Dork After Sunset</title>
		<link>http://anomali.net/2009/05/25/the-dork-after-sunset/</link>
		<comments>http://anomali.net/2009/05/25/the-dork-after-sunset/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 May 2009 09:17:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anomali.net/?p=1220</guid>
		<description><![CDATA[Em, Pernah mempehatikan perubahan emosi dan perilaku kita dari jam ke jam dalam sehari?

 Hemm..pagi tadi saya terpikir untuk mengamati hal itu. Memperhatikan apa yang saya lakukan, yang saya pikirkan, disertai evaluasi dangkal tentang emosi yang mengikuti semua aktivitas saya itu. Dan hasilnya menakjubkan! Ternyata saya bisa menjadi berbagai karakter berbeda setiap hari. Hal yang ga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Em, Pernah mempehatikan perubahan emosi dan perilaku kita dari jam ke jam dalam sehari?</p>
<div class="note_content text_align_ltr direction_ltr clearfix">
<div><span id="more-1220"></span> Hemm..pagi tadi saya terpikir untuk mengamati hal itu. Memperhatikan apa yang saya lakukan, yang saya pikirkan, disertai evaluasi dangkal tentang emosi yang mengikuti semua aktivitas saya itu. Dan hasilnya menakjubkan! Ternyata saya bisa menjadi berbagai karakter berbeda setiap hari. Hal yang ga pernah saya sadari sebelumnya, wew… </p>
<p>Sungguh ga saya sadari kalo di pagi hari waktu baru bangun tidur, ternyata saya adalah seorang idiot. Berjalan keluar kamar dengan terhuyung-huyung, berniat menuju kamar mandi namun kadang berakhir di depan meja komputer terlebih dahulu karena melihat rokok yang begitu menggoda. </p>
<p>Kemudian menikmati rokok tadi sambil bengong duduk di depan komputer ato memilih-milih lagu di list winamp, baru kemudian beranjak ke kamar mandi (sesampainya dikamar mandi kadang bengong lagi, mikir-mikir mau pup dulu ato ga sebelum mandi, hoho). </p>
<p><span>Bodohnya semua aktivitas-pagi-setengah-me</span>ngantuk itu kadang saya lakukan dengan busana minim sekali! cuma mengenakan boxer yang kadang-kadang bagian depannya agak cembung (You know lah kenapa boxernya bisa cembung gitu :-p)! wakakakakaka….idiot mode : on</p>
<p>Ternyata idiot mode tadi menyita banyak sekali waktu saya, itu terbukti dengan seringnya sholat subuh yang saya lewatkan bersamaan dengan sinar matahari yang udah cukup masuk kategori dalam posisi “pagi”. Hadoohh…. kebodohan berlanjut. </p>
<p>Seiring waktu berjalan (yang ternyata semua itu cuma terjadi dalam hitungan jam, kadang cuma menit), saya pun bertransformasi menjadi berbagai karakter yang berbeda-beda. <br />
Terkadang menjadi si ambisius, si oportunis, si cocky, menjadi si naïf, dan kembali menjadi si bodoh, ato tiba-tiba menjadi si cerdas, dan terkadang menjadi si liar-melebihi keliaran yang bisa saya bayangkan. </p>
<p>Karakter-karakter absurd yang disopiri oleh ego, emosi, dan testosterone…</p>
<p>Hingga sunset tiba, dan sekali lagi saya bertansformasi menjadi karakter baru yang jarang sekali muncul sebelumnya, dan seringkali hanya muncul di saat-saat sunset, waktu mendengar adzan magrib. Saya bertransformasi menjadi karakter yang religius…</p>
<p>Ya, seringkali cuma di waktu maghrib saya benar-benar merasa sebagai makhluk Tuhan yang lemah, dan menyesali apa yang saya lakukan hari ini waktu berada dalam karakter-karakter absurd tadi. </p>
<p>Em, andainya saya bisa menjadi karakter ini sepanjang hari.</p></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anomali.net/2009/05/25/the-dork-after-sunset/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inikah Cinta!</title>
		<link>http://anomali.net/2009/05/17/inikah-cinta/</link>
		<comments>http://anomali.net/2009/05/17/inikah-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 May 2009 08:06:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily Life]]></category>
		<category><![CDATA[Poems]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anomali.net/?p=1215</guid>
		<description><![CDATA[Langitku cerah secerah hatiku kini


 
ku t&#8217;lah berjanji akan bertemu dgnnya lagi
merangkai kata&#8230;
Ungkapkan isi d hati.
Ku ingin dia tau apa yg kurasa kini
inikah rasa&#8230;
Bila kita telah d buatnya tergila-gila, 
dan kau tak sanggup ingkarinya!
Inikah cinta? Sungguh aku tak akan pernah menyesalinya!
Inikah indahnya cinta!
Seperti pelangi indahnya hari ini
ku tlah berjanji akan bertemu dgnnya lagi
merangkai kata,ungkapkan mimpi d hati
ku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Langitku cerah secerah hatiku kini</p>
<div class="note_content text_align_ltr direction_ltr clearfix">
<div>
<p> </p>
<p>ku t&#8217;lah berjanji akan bertemu dgnnya lagi<span id="more-1215"></span><!--more--></p>
<p>merangkai kata&#8230;</p>
<p>Ungkapkan isi d hati.</p>
<p>Ku ingin dia tau apa yg kurasa kini</p>
<p>inikah rasa&#8230;<br />
Bila kita telah d buatnya tergila-gila, <br />
dan kau tak sanggup ingkarinya!<br />
Inikah cinta? Sungguh aku tak akan pernah menyesalinya!<br />
Inikah indahnya cinta!</p>
<p>Seperti pelangi indahnya hari ini</p>
<p>ku tlah berjanji akan bertemu dgnnya lagi</p>
<p>merangkai kata,ungkapkan mimpi d hati</p>
<p>ku ingin dia tau apa yg kurasa kini&#8230;.</p>
<p>Inikah cinta&#8230;</p>
<p>(inikah cinta.dipopulerkan oleh rockapudink). </p>
<p>Wakakaka,the soundtrack of my love! Pengakuan paling jujur soal &#8220;rasa&#8221; jatuh cinta gw rasa&#8230;fufufufu</p></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anomali.net/2009/05/17/inikah-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Parodi Es Krim Di Dalam Pelukan</title>
		<link>http://anomali.net/2009/05/16/parodi-es-krim-di-dalam-pelukan/</link>
		<comments>http://anomali.net/2009/05/16/parodi-es-krim-di-dalam-pelukan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 May 2009 01:00:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anomali.net/?p=1212</guid>
		<description><![CDATA[Well, I’ll wait to U listen
Every word I have to say
Noticing how bad I’ve been this week…
Now Ur lying on the table 
With every word I said to U…
So let start over…
….
….
….
“Hujan ini begitu deras, bukankah lebih baik kamu memelukku?”
“Dan membiarkan kamu meleleh di dalamnya (pelukku)?”
“Ya, aku mau itu, aku tidak ingin membeku saat aku memilikimu”
“Bukankah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Well, I’ll wait to U listen<br />
Every word I have to say<span id="more-1212"></span><br />
Noticing how bad I’ve been this week…<br />
Now Ur lying on the table <br />
With every word I said to U…<br />
So let start over…<br />
….<br />
….<br />
….<br />
“Hujan ini begitu deras, bukankah lebih baik kamu memelukku?”<br />
“Dan membiarkan kamu meleleh di dalamnya (pelukku)?”<br />
“Ya, aku mau itu, aku tidak ingin membeku saat aku memilikimu”<br />
“Bukankah sama saja? Nanti aku juga akan pergi, dan kamu akan membeku lagi?”<br />
“Bukankah aku es krim-mu?”<br />
“Iya, kamu es krim termanisku”<br />
“Lalu kenapa?”<br />
“Entahlah, aku hanya ingin membiarkanmu membeku di sini, sampai besok saat aku mengecap manismu lagi, kamu akan menjadi es krim yang sama dengan hari ini”<br />
“Kamu curang….”<br />
“Mengertilah, aku tidak ingin kamu meleleh tanpa sisa hari ini”<br />
”Apa bedanya? Kalau besok datang dan kamu melelehkanku lagi?”<br />
“Apa bedanya jika aku menyisakannya setiap hari?”<br />
“Ukhh…aku bosan jadi es krimmu kalau begitu!”<br />
“huffhh…Apakah kamu bosan meleleh di pelukku?”<br />
“Ahh…kamu memang curang!”<br />
”Tidak, aku hanya bijak!”<br />
“Tau kah kamu? Melelehkanku setiap hari seperti itu menyiksaku?”<br />
“Tau kah kamu? Betapa aku takut jika besok kamu bukan es krim yang sama dengan hari ini?”<br />
….<br />
….<br />
….<br />
Ur earner light<br />
Do something Bright<br />
Glory without a victory<br />
Every word I said to you,<br />
What the words, That I means<br />
All the most, I’ll never let U go….<br />
We can stay like this forever?</p>
<p>Stay with me till a least forever<br />
U my current obsession<br />
U my favorite position</p>
<p>***</p>
<p>*hehehe…akhirnya, setelah sekian lama tulisan ini ada, baru sekarang gw pede ngepostnya, wkakakakakakakaka….boleh di copy tapi harap jangan di caci, :-p.<br />
Thanks to PW GSKNS for TATIANA lyrics</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anomali.net/2009/05/16/parodi-es-krim-di-dalam-pelukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Maap, Gw ga cinta produk negri ini!</title>
		<link>http://anomali.net/2009/05/15/maap-gw-ga-cinta-produk-negri-ini/</link>
		<comments>http://anomali.net/2009/05/15/maap-gw-ga-cinta-produk-negri-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 May 2009 03:47:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anomali.net/?p=1210</guid>
		<description><![CDATA[Satu hal yang menarik di siaran televisi buat gw adalah commercial break-nya. Disiplin ilmu marketing yang jadi pakem utama pendidikan formal gw bikin gw prefer banget ma yang namanya iklan, rasanya menyenangkan melihat bagaimana orang-orang itu “berjualan” lewat media.
Jadilah hari ini sambil jagain ponakan yang lagi sakit, tangan gw ga henti-hentinya memencet tombol remote-mencari saluran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Satu hal yang menarik di siaran televisi buat gw adalah commercial break-nya<span id="more-1210"></span>. Disiplin ilmu marketing yang jadi pakem utama pendidikan formal gw bikin gw prefer banget ma yang namanya iklan, rasanya menyenangkan melihat bagaimana orang-orang itu “berjualan” lewat media.<br />
Jadilah hari ini sambil jagain ponakan yang lagi sakit, tangan gw ga henti-hentinya memencet tombol remote-mencari saluran tivi yang lagi nayangin commercial break.<br />
Em, Ada satu iklan produk bola lampu yang menarik gw hari ini, dengan statement “produk dalam negri” sebagai jargon utamanya [benarkah produk bola lampu ini produk asli dalam negri? Ato cuma mengakali biaya produksi karena upah tenaga kerja di negri ini relatif murah? Entahlah…]. Dan gw berikan aplaus meriah untuk bapak-bapak [beliau itu sapa ya?] yang bilang “Cintailah produk negri ini” dengan baju batik dan semangat yang dibuat-buat di klimaks iklan tersebut.</p>
<p><span>Produk dalam negri? Ah, sebuah kalimat yang klise, bahkan gw sendiri bingung, apa saja produk dalam negri ini yang gw konsumsi selain T shirt hasil industri-kecil-independent</span> yang gw pakai ini. Hampir semua yang gw pakai adalah sesuatu yang berlabel Made in China, ato mungkin berlabel Made in Indonesia tapi punya perusahaan asing berskala internasional, apa yang masih murni produk negri ini sekarang? <br />
Bahkan teh yang gw minum pagi tadi, dan rokok yang hisap saat ini adalah bukan produk milik negri ini lagi….</p>
<p>Ya, semenjak lebih banyak aset Negara yang di privatisasi dan lebih banyak lagi industri-industri nasional yang diakusisi oleh pihak asing, produk-produk asli dalam negri yang kompeten menguap entah kemana. </p>
<p>***<br />
Seringkali gw terhanyut dalam arus retoris kenapa produk dalam negri ini ga sanggup berkompetensi di pasar yang notabene “lahan”nya sendiri.<br />
Terkadang gw berasumsi karena negri ini kekurangan pakar marketing yang mumpuni untuk memasarkan produk-produk negri ini sendiri sebagai jawabannya [sekian tahun dunia marketing Indonesia hanya diwakili oleh Hermawan Kertajaya, sedangkan Philip Kotler-Philip Kotler baru terus bermunculan di luar sana].<br />
Ato terpikir asumsi lain kalo sebenarnya ada banyak marketer-marketer lokal yang mumpuni selaen Pak Hermawan Kertajaya itu, Cuma mereka bingung mo mengusung produk asli negri ini yang mana untuk dijual, karena tidak ada satu pun dari produk-produk itu yang memiliki nilai jual.<br />
Ahh, bodohnya gw mencari jawaban dari sesuatu yang retoris.<br />
Tapi terus terang gw miris dengan kurangnya SDM-tangguh yang dimiliki negri ini yang mampu berjibaku dengan serigala-serigala kapital diluar sana selain para TKI, yop! Satu-satunya SDM yang bisa dibanggakan negri ini adalah para tenaga kerja-buruh yang jumlahnya luar biasa banyak.<br />
Apa yang salah? Bukankah negri ini punya begitu banyak sarana-sarana untuk mencetak cendikiawan dan tenaga ahli diberbagai bidang? Dan Negri ini pun punya banyak bibit-bibit kompeten yang menunggu dipoles oleh sarana-sarana pendidikan tersebut untuk menjadi motor hebat yang menggerakan roda negri ini?<br />
Seorang teman pernah ber-opini kalo hal itu disebabkan sistem yang salah, sistem pendidikan yang salah. Penetapan standar nilai yang terlalu tinggi, kapitalisasi dunia pendidikan dan kurikulum yang absurd adalah penyebab kurang maksimalnya pencapaian dari dunia pendidikan negri ini. <br />
Yup, gw setuju-setuju saja dengan opini teman gw itu. Tapi kalo kita menyikapi hal tersebut dengan apa yang dimaksud Darwin dengan “seleksi alam”, opini teman gw itu mungkin bisa dipertanyakan relevansinya [maap, bukan berarti gw seorang Darwinis, gw hanya mencoba menganalogikan hal ini dengan teorinya, huhu…].<br />
Dengan mengindahkan sistem bobrok dunia pendidikan kita, gw menganalogikan dunia pendidikan dengan semua sistemnya sebagai alat seleksi alam, dan kita sebagai obyek-nya [Mungkin memang agak berlebihan dan ga manusiawi ya]. Dimana kita dipaksa melewati proses seleksi dan memeliki kemungkinan ter-eliminasi, tergantung kita selama proses seleksi tersebut, hingga pada akhirnya hanya menyisakan individu-individu yang kompeten yang keluar sebagai seorang juara.</p>
<p>Um, gw jadi teringat masa kuliah dulu. Waktu harus berjuang keras “melewati seleksi alam” agar ga ter-eliminasi. Entah karena terlalu banyak nge-baca literatur soal idealisme, ato karena memang ga berbakat melakukan trik-trik yang lazim digunakan para mahasiswa dalam menghadapi “seleksi” ini, gw selalu berusaha bersikap diluar mainstream setiap kali menghadapi seleksi ini. Dengan narsis gw ga mau ikut-ikutan bikin note kecil yang mungkin berguna kalo ujian, ato hanya dengan sangat terpaksa “nyontek”,hahaa…[yang banyaknya berakhir dengan frustasi karena ga ada yang mau nyontekin, karena gw ga punya sesuatu yang berharga berupa jawaban untuk soal-soal yang lain sebagai barter nya, hahaha]. <br />
<span>Hasilnya? Sudah tentu, skor penuh untuk teman-teman gw yang “cerdas” ga mau idealis, dan IPK di bawah rata-rata untuk si bodoh ini. fufufufufufufufufu….apakah</span>gw ngerasa rugi? Ga banget! Gw bersyukur karena sudah pernah berbuat jujur dengan diri gw sendiri.<br />
Terus apa yang terjadi ma gw dan teman-teman gw itu setelah sekarang mulai bertarung di “dunia nyata”? sama aja, semuanya sama tertatih-tatihnya dengan gw, karena untuk bertahan di luar sana ternyata butuh kematangan, keberuntungan, peluang dan kesempatan. <br />
Kematangan dalam menyikapi dan memakai semua disiplin ilmu yang didapat selama proses seleksi itu akan lebih berguna dari pada angka-angka yang tertera di transkip nilai, dan diluar sana “catatan kecil- penyelamat” di ruang ujian tidak akan membantu saat berhadapan dengan musuh sebenarnya, oportunis yang memiliki kematangan intelektual sebenarnya. <br />
Catatan kecil-penyelamat itu hanya membuat orang-orang yang teradiksi menggunakannya menjadi mollusk, kerang yang tampak keras di luar, tapi ga punya sesuatu yang bisa diandalkan untuk melindungi dirinya. Sedangkan orang-orang yang memang menggali potensi dirinya selama proses seleksi itu menjadi seekor hiu, yang memiliki kemampuan terbaik untuk bertahan hidup. </p>
<p>Itulah sebenarnya yang salah. Sistem absurd di negri ini dan dimix dengan sikap yang tidak fair terhadap diri sendiri dari masing-masing individunya lah yang patut disalahkan. Sesuatu yang salah yang menciptakan “kebodohan” sebagai produk andalan negri ini. Kebodohan untuk menipu diri, kebodohan untuk terus tereksploitasi, kebodohan untuk malu mengakui kelemahan, kebodohan untuk sombong sebagai seorang yang tidak punya kemampuan.</p>
<p>Yup! Negri ini adalah produsen terbesar kebodohan!<br />
Dan maap saja, gw ga terlalu bodoh untuk mencintai kebodohan….</p>
<p>***</p>
<p>Rupanya produsen bola lampu itu punya budget gede buat promo, iklannya berulang kali diputar di channel yang berbeda,ahhh..andainya gw punya budget segitu besar buat mewujudkan mimpi gw menjadi pedagang no.1 di dunia..haha</p>
<p>Ponakan gw dah tertidur pulas, em, saatnya gw kembali bekerja, mengumpulkan remah-remah dari si Hiu besar. Toh, sesuatu yang besar berawal dari hal yang kecil bukan? </p>
<p>stand up! with everything you’ve got. Cus after all we’re the one whos winning</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anomali.net/2009/05/15/maap-gw-ga-cinta-produk-negri-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>I love not man the less, but Nature more&#8230;</title>
		<link>http://anomali.net/2009/05/04/i-love-not-man-the-less-but-nature-more/</link>
		<comments>http://anomali.net/2009/05/04/i-love-not-man-the-less-but-nature-more/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 May 2009 04:08:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anomali.net/?p=1199</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini gw duduk di teras belakang rumah nenek menyaksikan hujan lebat yang kadang-kadang disertai kilat, sendirian. 
Mp3 player gw mutar lagu The Redemption Show-nya Bob Marley.
…
Ga ada yang gw pikirin.
Mata gw hanya sibuk memperhatikan titik-titik air yang jatuh.
Gw hirup sesekali teh panas bikinan nenek.
Diam.
….
Hujan masih terus turun.
Gw masih duduk diam.
Mata gw masih setia memperhatikan titik-titik air [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini gw duduk di teras belakang rumah nenek menyaksikan hujan<span id="more-1199"></span> lebat yang kadang-kadang disertai kilat, sendirian. <br />
Mp3 player gw mutar lagu The Redemption Show-nya Bob Marley.<br />
…<br />
Ga ada yang gw pikirin.<br />
Mata gw hanya sibuk memperhatikan titik-titik air yang jatuh.<br />
Gw hirup sesekali teh panas bikinan nenek.<br />
Diam.<br />
….<br />
Hujan masih terus turun.<br />
Gw masih duduk diam.<br />
Mata gw masih setia memperhatikan titik-titik air yang jatuh.<br />
Anak-anak tetangga ribut menunggu buah asam yang jatuh dari pohonnya.<br />
Sesekali mereka ketakutan kalo ada kilat dan bunyi gemuruh petir.<br />
Kemudian ribut lagi kalo ada buah asam yang jatuh.<br />
Gw masih duduk diam.<br />
….<br />
Hujan masih terus turun<br />
Air kecoklatan yang mengalir di tanah berlumpur<br />
Daun-daun yang berkeresak basah<br />
Anak-anak kecil yang gemetar kedinginan<br />
Gw duduk diam di teras belakang rumah nenek<br />
….<br />
Hujan berhenti…<br />
Mp3 player gw dah lama mati.<br />
Mug teh ditangan gw kosong.<br />
Lumpur coklat kehitaman yang tergenang air disana sini.<br />
Gw masih duduk diam.<br />
…<br />
…<br />
Bau hujan di bulan april.<br />
Ga ada pelangi yang gw harapin.<br />
Lumpur coklat kehitaman.<br />
Gw beranjak masuk dan menutup pintu.<br />
Ga ada yang gw pikirin…<br />
…</p>
<p>Adalah hal mudah untuk duduk diam bersama alam dari pada bersama orang yang gw cintai.<br />
Gw mencintai manusia, tapi lebih suka alam……</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anomali.net/2009/05/04/i-love-not-man-the-less-but-nature-more/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Welcoming The Hardworker</title>
		<link>http://anomali.net/2009/05/03/welcoming-the-hardworker/</link>
		<comments>http://anomali.net/2009/05/03/welcoming-the-hardworker/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 May 2009 04:15:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anomali.net/?p=1201</guid>
		<description><![CDATA[Yeahhh! Hari ini gw bangun di waktu yang sangat fantastis! Pukul 4: 30 pagi!
Rekor terbaru dari sejarah bangun pagi” gw!
…
Gimme a A!
Gimme a R!
Gimme a I!
A-R-I
Go go Ari go cmond! Cmond!
Go go Ari go cmond! Cmond!
Ada serombongan cheerleader yang mompa semangat gw untuk segera beranjak dari tempat tidur!
Segera gw pergi kekamar mandi!
Mengaduk2 segelas teh panas!
Light on [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yeahhh! Hari ini gw bangun di waktu yang sangat fantastis!<span id="more-1201"></span> Pukul 4: 30 pagi!<br />
Rekor terbaru dari sejarah bangun pagi” gw!<br />
…<br />
Gimme a A!<br />
Gimme a R!<br />
Gimme a I!</p>
<p>A-R-I<br />
Go go Ari go cmond! Cmond!<br />
Go go Ari go cmond! Cmond!</p>
<p>Ada serombongan cheerleader yang mompa semangat gw untuk segera beranjak dari tempat tidur!<br />
Segera gw pergi kekamar mandi!<br />
Mengaduk2 segelas teh panas!<br />
Light on cigar!<br />
Dan menyantap lapis legit beku dari kulkas [ga ada tanda2 makanan lain yang pantas buat sarapan selain ini! Hikz]</p>
<p>Gw liat list kerjaan gw hari ini<br />
Menyiapkan laptop butut senjata andalan gw<br />
Dan pamitan ma ponakan gw yang masih bau apek, haha…</p>
<p>Dengan skate shoes butut gw susuri aspal butut penuh lubang<br />
Keringat di pagi hari ini terasa segar<br />
Kaki gw beradu cepat dengan ban motor anak2 SMU yang berangkat sekolah<br />
Gw menikmati hari pertama kembali bekerja setelah libur panjang!</p>
<p>Welcoming The Hardworker!!!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anomali.net/2009/05/03/welcoming-the-hardworker/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Popular Culture today&#8230;.</title>
		<link>http://anomali.net/2009/05/02/popular-culture-today/</link>
		<comments>http://anomali.net/2009/05/02/popular-culture-today/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 May 2009 04:03:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anomali.net/?p=1196</guid>
		<description><![CDATA[Aghh…Nightmare!
Gw kebangun dari tidur yang harusnya jadi tidur “ideal”- yang nyaman di tengah malam buta gara-gara mimpi buruk-aneh yang lebih berbau fiksi ilmiah dari pada horror!.
Alkisah di dalam mimpi itu gw lagi terlibat proyek “massive” ma seorang ilmuwan yahudi hasil kloning silang antara Einstein, Oppenheimmer, ma Stephen Spielberg [sehingga dapat dimaklumi kalo doi ahli banget [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aghh…Nightmare!<br />
Gw kebangun dari tidur yang harusnya jadi tidur “ideal”<span id="more-1196"></span>- yang nyaman di tengah malam buta gara-gara mimpi buruk-aneh yang lebih berbau fiksi ilmiah dari pada horror!.</p>
<p>Alkisah di dalam mimpi itu gw lagi terlibat proyek “massive” ma seorang ilmuwan yahudi hasil kloning silang antara Einstein, Oppenheimmer, ma Stephen Spielberg [sehingga dapat dimaklumi kalo doi ahli banget soal fisika ma rekontruksi fantasi] untuk bikin mesin waktu, Dengan penyandang dana sebuah organisasi keuangan milik orang-orang Yahudi juga.</p>
<p>Sebenanya gw males kelibat di proyek ini, coz dari isu yang gw denger mesin yang lagi gw kerjain ini bakal di gunain untuk mengekploitasi sisi Rohani dari orang-orang ber-agama samawi (Muslim, Nasrani dan Yahudi) untuk kepentingan bisnis! Kabarnya mereka tertarik ingin bikin paket wisata bersama 25 Nabi dan Rasul setelah melihat sukses paket wisata Umroh dan Ziarah Wali Songo yang dikerjain beberapa travel tour lokal! Huahh….<br />
Jadi di paket wisata si Yahudi ini orang-orang bisa langsung ngeliat “live” peristiwa Nabi Musa as ngebelah laut merah, ato ikutan nginap satu malam di bahtera Nabi Nuh as dengan fasilitas royal suite ( kabarnya mereka bakal nge-renov kapalnya Nabi Nuh as jadi ga kalah mewah dari Titanic), dan sebagainya..<br />
Hemmm…</p>
<p>Tapi dasar Yahudi berotak ajaib-picik, mereka sukses juga ngebujuk gw buat ikutan di proyek ini dengan imbalan bisa nonton “live” show-nya The Beatles di Ed Sullivan Show pas The Beatles tour ke Amrik taon ’64! <br />
Jerk!! Mereka tau banget kalo gw seorang konsumen aktif budaya popular dan semua komoditasnya!</p>
<p>Jadilah dengan motivasi bakal nonton live show-nya The Beatles, gw rela kerja rodi siang malam (ternyata kerja ma Yahudi kurang lebih parahnya ma kerja dengan Jepang). Setelah beberapa kali gagal, mulai jadi bulan-bulanan dinosaurus kaya nobita ma doraemon gara-gara salah setel taon, sampai nangis-nangis minta tobat gara-gara kelempar kemasa depan pas bumi lagi kiamat. Akhirnya proyek massive ini kelar juga.</p>
<p>Gw pun dengan hati yang riang gembira menagih janji mereka bakal ngebolehin gw make mesin waktu itu untuk nonton The Beatles di Ed Sullivan Show! Dan ga disangka! Si Yahudi ternyata menuhin janji-nya itu! (heran, Nabi Musa as aja di bohongin ma mereka, tumben banget). Jadilah dengan rambut yang khusus di set mop top dan setelan Armani gw berangkat ke taon ’64 untuk ngeliat live The Beatles tadi.</p>
<p>Tapi rupanya gw terlalu senang sampai lupa kalo duit yang gw bawa ga berlaku! (dikasih Yahudi tadi juga, bonus bilangnya. Tapi ngasihnya Rupiah bukan Dollar! Huahhh!! Yahudiiii….). Gw jadi ga bisa beli tiket buat masuk studio-nya si Mr. Ed!!!</p>
<p>Aghhhh…..Nightmare!</p>
<p>***</p>
<p>Nightmare yang kejam banget itu bikin gw ga bisa tidur lagi, perasaan gw masygul sekalian bete gara-gara [lagi-lagi] gagal nonton live-nya The Beatles walo cuma di mimpi. Gw nyalain lampu meja [jiahh! Kamar losmen nenek gw mang mantaph! Ada lampu mejanya ding! Ahahaha], gw liat buku Popular Culture-nya Dominic Strinati yang gw baca sebelom tidur tadi masih tergeletak di tempatnya.</p>
<p>Ahh, iyaa… gw tadi baca bab Mazhab Frankfurt yang salah satu pokok bahasannya adalah Industri Budaya. Well. Gw jadi keingat mimpi gw tadi yang sangat-sangat sebuah implementasi Industri Budaya.<br />
Aa…Menurut Mazhab Frankfurt tadi, Industri Budaya itu dibentuk sedemikian rupa sehingga budaya populer menjadi suatu komoditas yang menjadi kebutuhan orang, yang secara ga sadar terikat untuk mengkonsumsinya. <br />
Kebutuhan palsu yang diciptakan untuk dikonsumsi oleh orang-orang yang sebenarnya tidak membutuhkan komoditas itu seperti dia membutuhkan komoditas riil (sandang, pangan, papan, pendidikan murni, dsb yang “menurut gw” adalah komoditas yang menunjang hidup orang itu sendiri).<br />
Contohnya adalah Tiket konser The Beatles di Ed Sullivan Show [di mimpi gw] tadi. <br />
Well, apa sih yang hebat dari empat remaja tanggung dari Liverpool yang kebetulan berwajah cute dan jago bikin lagu-lagu bagus sebelom di poles oleh alat-alat industri budaya sampai tour mereka di Amrik sono pada taon ‘64 jadi momentum yang bersejarah? <br />
Nothing! <br />
Musik mereka menjadi candu karena media.<br />
Hair cut mereka menjadi tren karena media.<br />
Setelan mereka adalah pakaian biasa yang berprogres menjadi luar biasa karena media.<br />
keempat remaja tanggung itu menjadi “anak ajaib” karena media.</p>
<p>Yap! Media menjadikan mereka trendy dan popular dan kemudian menjualnya dalam suatu bentuk icon budaya secara instant! tau berapa kisaran duit yang berputar untuk mengakses dan mengkonsumsi berbagai hasil olahan dari The Beatles mulai dari single, album, film sampai merchandise berbentuk wig selama taon 1959-1965? <br />
BANYAK BANGET! <br />
[ Coba alat-alat industri budaya itu juga mengeksploitasi gw kaya The Beatles yak, mungkin gw sekarang ga cuap-cuap gini gara-gara mangkel ma Nightmare bodoh tadi,hahahaha].</p>
<p>Industri budaya menjual komoditasnya yang paling popular dalam bentuk The Beatles di masa itu. Memaksa orang-orang yang terikat jaring konsumerisme semu untuk terus mengkonsumsinya [padahal secara logis mereka tidak membutuhkannya] hingga sampai titik dimana komoditas itu kehilangan nilai jualnya dan industri budaya pun meninggalkannya begitu saja, kemudian mencari komoditas baru untuk dijual kembali.<br />
Dan bodohnya, orang-orang yang terikat jaring konsumerisme semu itu kembali datang untuk mengkonsumsinya. Dan Labirin popular ini pun terus membawa mereka sampai sekarang.</p>
<p>So, jadi sangat beruntung orang-orang yang sukses menjauhkan dirinya dari gegap gempita dunia showbiz? <br />
Not yet!!!!<br />
Seiring waktu Industri Budaya merasuk ke berbagai hal, yang selama ini jarang di pikirkan orang sebagai bentuk budaya popular, secara halus dan betul-betul tidak terasa, bahkan dengan caranya, menjadi parasit yang berinangkan kebutuhan-kebutuhan riil manusia itu sendiri.</p>
<p>Ambilah contoh trend tekhnologi informasi dalam kasus kebutuhan manusia untuk berkomunikasi. Seperti telepon. Dulu telepon berfungsi sebagai alat komunikasi jarak jauh yang mengefisienkan waktu untuk dapat bertukar informasi, sekarang? Sama, telpon masih berfungsi dasar seperti itu, cuman seringkali termanipulasi oleh trend sehingga value atas manfaatnya menjadi secondary, tergeser oleh trend fetish yang dibentuk oleh media atas telpon [dan berbagai variannya seperti HP, PDA,dsb] itu sendiri <br />
[gw pernah chat ma seorang temen yang kebetulan pake BB, yang sekarang lagi trend banget itu. Karena pengen tau apa hebatnya BB, gw iseng nanya soal OS dan fitur lainnya. Trus temen gw itu bilang dia sendiri ga tau apa hebatnya OS dan fitur si BB itu tadi dibandingkan dengan HP yang biasa! Hah! Bentuk konsumerisme yang paling ajaib telah ditemukan! Budaya popular menjadikan BB yang jauh dari benda-budaya menjadi komoditas bernilai tinggi di konteks budaya popular! trend! Ajaib…].</p>
<p>Well, Industri budaya sudah merasuk kemana-mana sekarang. Bahkan ketika lo baca post di notes ini secara ga sadar lo sudah menjadi konsumennya [sadarkah kita kalo FB adalah sebauh produk budaya popular yang temporary? Yang kebetulan akhir-akhir ini lagi happening?]. Industri Budaya mengkalkulasikan fee yang harus kita bayar kedalam biaya-biaya yang secara ga sadar kita bayar untuk mengkasesnya [Berapa biling warnet lo sekarang? Hehe…].</p>
<p>Mengesalkan bukan, Gw, elo dan semua orang yang hari ini berupaya untuk hidup dengan “benar”, ternyata telah ditipu mentah-mentah oleh bentuk kapitalis yang mengkamuflasekan dirinya menjadi sesuatu yang sangat manis. <br />
Saat kita bercermin merapikan kemeja yang sedianya mo dipake buat kuliah ato bekerja, Saat kita menikmati berita pagi di televisi sambil sarapan, saat kita mendengarkan musik di HP/mp3 player waktu menunggu kuliah mulai, saat kelaperan di tengah malam trus bikin mie instant (mie instant adalah “budaya popular”? yap!) bahkan sampai waktu kita membaca novel manis terbitan gramedia sebelom tidur!<br />
<span>Saat itu juga kita mesti membayar semua “kebutuhan” semu yang ditawarkan oleh Kapitalisme-Indutri-Budaya</span>-Populer.<br />
Apa yang bisa kita lakukan sekarang? <br />
Ga ada…..<br />
Kita hanya bisa ada disini untuk terus-menerus terjebak di “mesin” kapital yang menciptakan konsumerisme fetish, yang berbentuk manis, murah dan adiksi.<br />
menjalankan rodanya, ter-eksploitasi tanpa sadar, dan terus menerus seperti itu.</p>
<p>Well, welcome in the fake plastic world guys!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anomali.net/2009/05/02/popular-culture-today/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pohon Rindang Dari Kumpulan yang terbuang&#8230;.</title>
		<link>http://anomali.net/2009/04/30/pohon-rindang-dari-kumpulan-yang-terbuang/</link>
		<comments>http://anomali.net/2009/04/30/pohon-rindang-dari-kumpulan-yang-terbuang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 00:01:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anomali.net/?p=1194</guid>
		<description><![CDATA[Pohon itu berdiri ringkih sendirian di tengah air kecoklatan, batang bawahnya tampak hangus terbakar, daunnya yang tinggal sedikit tampak menunggu waktu untuk layu dan jatuh, sebagai daun terakhir dari sebuah tanda kehidupan yang mulai terlupakan.
Pohon itu tampak ringkih sendirian, mengenang betapa eloknya dirinya di waktu-waktu yang telah berlalu, hari-hari yang telupakan oleh teman-teman kecilnya di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Pohon itu berdiri ringkih sendirian di tengah air kecoklatan, batang bawahnya tampak hangus terbakar<span id="more-1194"></span>, daunnya yang tinggal sedikit tampak menunggu waktu untuk layu dan jatuh, sebagai daun terakhir dari sebuah tanda kehidupan yang mulai terlupakan.<br />
Pohon itu tampak ringkih sendirian, mengenang betapa eloknya dirinya di waktu-waktu yang telah berlalu, hari-hari yang telupakan oleh teman-teman kecilnya di masa lalu.<br />
Pohon itu berdiri ringkih sendirian, pohon rindang dari kumpulan yang terbuang…</em> </p>
<p>[suatu hari di “mantan” hutan dekat desa gw]</p>
<p><img class="alignnone" title="suatu hari di “mantan” hutan dekat desa gw" src="http://farm4.static.flickr.com/3369/3484518763_f6a431779b.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p>***<br />
A long time a go, liburan di desa kelahiran gw adalah hari-hari menyenangkan tiada habisnya. Bermain bersama sepupu-sepupu kecil gw, gosong terbakar sinar matahari, kulit yang bersisik akibat kelewat sering berendam di air rawa yang mirip coke [sampai-sampai gw percaya aja waktu bro gw bilang coca cola tu dibikin dari air rawa itu, trus dikasih gula ma soda,beuhh…], dikejar-mengejar monyet yang berebut territorial versus gw dan sepupu-sepupu gw di daerah yang di klaim sebagai kebun punya kakek, mancing ikan-ikan berlendir-amis dengan umpan cacing ato larva semut… <br />
Dan semua kebodohan anak kecil di yang diasingkan orang tuanya selama liburan panjang di akhir tahun ajaran di tempat yang sampai sekarang masih langka listrik dan tekhnologi maju itu.</p>
<p>Adalah hutan kecil di pinggir desa, hutan lebat angker dengan pohon-pohon besar layaknya hutan gelap Fangorn di cerita Lord Of The Rings, hutan yang tampak hidup dan berdenyut [mungkin saja memang ada para ent yang hidup di dalamnya, who’s know that…]. Hutan itu adalah satu-satunya tempat yang ga boleh gw datangin di desa itu, konon katanya ada seorang kerabat yang meninggal gantung diri di salah satu pohon di tengah hutan itu [ entah bener ato ga, tapi cerita itu sukses bikin gw ga berani masuk hutan itu walo ga di pasangin police line…].<br />
Hutan misterius yang selalu gw pandangin di sore hari sambil menunggu generator besar punya kakek di hidupin buat nyuplai listrik di rumah. Hutan dengan pohon-pohon besar yang berdaun lebat dan suara-suara makhluk aneh yang hidup di dalamnya. <br />
Sebuah keajaiban di pinggiran hutan Kalimantan yang konon katanya adalah paru-paru dunia. </p>
<p>Awal tahun 2000 an [ kalo gw ga salah ya…] berita di tivi tiap pagi adalah soal kebakaran hutan di Kalimantan yang lagi happening banget, kemarau yang kelewat panjang akibat dari perubahan iklim yang konon katanya ada hubungannya ma rusaknya lapisan ozon yang disebabin global warming adalah salah satu penyebab massif-nya kebakaran itu, selaen kebiasaan pembukaan ladang dengan cara membakar hutan oleh penduduk setempat dan berbagai kepentingan laennya…ehmm…ehm&#8230;uhuk. [ I don’t know…gw ngerasa itu lebih spesifik adalah awal dari tegoran Tuhan yang berkepanjangan untuk orang-orang yang hidup begitu sekuler dan tidak mengindahkan aturan-aturannya yang ternyata, terbukti sangat efektif dan efisien dalam fungsinya menjaga ekosistem dan kestabilan alam, ingat hadist ( untuk yang muslim neh ) yang artinya kira-kira gini “Kebersihan adalah sebagian dari pada iman” ? kebayang ga efeknya gimana kalo kita amalin dengan benar seperti membuang dan mengelola sampah pada tempatnya?].<br />
Em, menurut berita-berita di tivi tadi, kebakaran massif itu, yang asapnya sampai bikin kalang kabut negara “fuck” tetangga itu udah ngabisin berapa persen [ ini gw juga lupa, silakan googling deh kalo mo tau rinciannya.hehe…] dari sekian luas hutan hujan tropis di Kalimantan (sekali lagi selaen berbagai macam kepentingan-kepentingan segelintir orang tentunya). <br />
Akibat kebakaran hebat dan ehmm…berbagai kepentingan tadi itu, ekosistem hutan rawa tempat habitatnya berbagai satwa tropis yang udah berjalan ribuan tahun di bumi Kalimantan juga ikut terganggu, termasuk ekosistem di hutan dekat desa gw yang apes jadi salah satu korbannya.</p>
<p>***</p>
<p><img class="alignnone" title="suatu hari di “mantan” hutan dekat desa gw" src="http://farm4.static.flickr.com/3617/3485332412_23c8239665.jpg" alt="" width="500" height="364" /></p>
<p>Hari ini gw kembali berdiri di pinggiran hutan itu [ liat fotonya tuh!!!! Gw sok-sok merenung sambil pegangin akar pohon yang tumbang gitu! Gelooo…akarnya gede banget! Kalo orang “j***” tau pasti udah dibikin meja-meja sok eksotis buat di ekspor tuh.huhu ]. <br />
Well, baru sekarang gw ngeliat (live) efek dari kebakaran hutan itu di tempat yang dulu sekali adalah bagian dari hidup gw. Hutan yang dulu lebat dan horror itu kini berobah jadi hamparan padang luas dengan sisa-sisa dari pohon-pohon besar yang terbakar mencuat dimana-mana. Tanah humus-lembab kehitaman yang dulunya adalah pijakan dari akar-akar pohon besar itu kini tergenang air kecoklatan, air rawa dan sungai kini menjadi tamu tetap tempat itu semenjak pohon-pohon besar itu tidak lagi menjaganya. Bahkan menurut beberapa anak yang kebetulan lagi maen di sekitar situ sekarang sudah ga ada lagi monyet-monyet rival sejati gw yang dulunya tinggal di situ, bermigrasi entah kemana. <br />
Ekosistem yang terbentuk ratusan tahun itu kini hanya menjadi penggalan kisah janggal yang didengar menjadi dongeng anak-anak sekarang, seperti sebatang pohon yang tersisa menunggu ajal, gw pun ngerasa kehilangan bagian dari masa kecil gw, ga ada lagi dongeng horror kaya di film Suzzana soal kerabat yang tewas gantung diri, ga ada lagi lelucon konyol soal “pabrik” coca cola yang bisa gw cerita in ke anak bodoh seperti bro gw ma gw dulu. <br />
Sepenggal cerita masa kecil yang hilang, sebuah hutan yang hilang, sebuah harapan yang hilang untuk orang-orang dimasa depan.</p>
<p><em>“Seperti gw yang bingung mo cerita apa ke anak-anak gw nanti kalo ditanya mereka soal masa kecil gw, sebingung itu juga bumi jika ditanya apa yang dia bisa berikan untuk masa kecil dan masa depan anak-anak gw kelak”</em></p>
<p><strong>Re green. Save the forest for the earth, for the children</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anomali.net/2009/04/30/pohon-rindang-dari-kumpulan-yang-terbuang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 0.803 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2009-07-04 05:34:18 -->
