Beberapa hari terakhir saya lagi maruk ngebaca buku-nya Nawal El Saadawi, feminist asal Mesir yang buku-bukunya (dari dua buku yang saat ini saya baca) menceritakan paradoks wanita Mesir dalam kehidupan dan statusnya dalam sebuah struktur sosial dibandingkan dengan gender lainnya, laki laki.
Dan, luar biasa! Saya benar-benar kagum bagaimana si Nawal El Saadawi ini bermain-main dengan cerita kehidupan dan harga diri seorang wanita mesir yang terdistorsi dalam struktur sosial-budaya timur tengah, menuturkannya dalam sastra arab yang kalimat-kalimatnya seringkali mengkiaskan rasa sinis dalam kaca mata feminisme [walo saya ga ngerti-ngerti banget-banget soal sastra Arab, huhu… satu-satunya yang bisa saya banggakan dari kemampuan berbahasa Arab saya adalah nilai penuh, 9 (Sembilan), di buku rapor saya untuk mata pelajaran bahasa Arab di waktu sekolah dulu, itu pun cuma sekali,haha].
“Seandainya aku adalah Maria, Sang Perawan Suci dan aku melahirkan seorang anak perempuan dan bukan laki-laki, bukankan putriku adalah putri Allah dan akan diberi nama ‘Al-Masiha’ serta menjadi salah seorang Nabi?”
(2003; hlm. xii)
Kutipan yang saya ambil dari kata pengantar yang diberikan Nawal El Saadawi untuk bukunya yang berjudul Jatuhnya Sang Imam itu secara ironis menggambarkan feminisme dalam sebuah humor teologi yang sangat-sangat sinis, dan dibalut dalam sastra Arab yang mengagumkan [penggunaan isitilah ‘Al-Masiha’ itu dalam kalimat yang saya kutip itu sungguh mengagumkan dan secara dramatis menimbulkan kesan yang dalam untuk sebuah persepsi feminis. dalam bahasa Arab, huruf ta’ pada akhir kalimat bisa menunjukkan arti perempuan, sehingga apabila ‘Al-Masih’ itu memiliki arti Putra Allah, maka ‘Al-Masiha’ memiliki arti Putri Allah].
Sungguh tulisan hebat yang ditulis oleh wanita yang sangat berani. Terus terang, baru kali ini saya membaca tulisan yang mengeksplorasi seksualitas wanita tanpa melibatkan testosterone dalam proses saya mencitrakan apa yang dideskripsikan si penulis. Huhuhuhu…
***
Feminisme,
Beberapa tahun lalu saya mengenal istilah ini dalam zine seorang yang menamakan dirinya ‘peniti pink’. Dalam zine-nya itu, si peniti pink ini memporak porandakan tatanan feminisme yang berbasis pada kesetaraan gender. Tulisannya yang berupa versi kontra dari feminisme yang banyak feminist-feminist usung, membuat kesetaraan gender yang menjadi isu yang menggelikan. Peniti pink menggambarkan bahwasanya wanita memang secara kodrat adalah seseorang yang selalu berdiri agak dibelakang laki-laki.
“…saya benar-benar merasa seorang wanita saat dia berada di selakangan saya…”
Kutipan dari puisinya itu menggambarkan bagaimana si Peniti Pink merasa wanita dan kodratnya adalah hal sangat tidak relevan jika dibandikan dengan konteks wanita dalam feminisme.
Berawal dari keunikan pemikiran seorang peniti pink ini (yang saya yakini berwujud seorang wanita), saya tertarik untuk menelusuri benang-benang dalam feminisme, dan melihat relevansinya dalam obyeknya, yaitu ‘Wanita’.
Em, dalam sebuah generalisasi gender, manusia terbagi dalam dua gender yaitu ‘laki-laki’ yang digambarkan dengan symbol lingkaran dengan anak panah, dan Perempuan yang digambarkan dengan symbol lingkaran dan tanda palang/plus [selanjutnya akan saya sebut sebagai ‘wanita’, karena bila dilihat dari sastra melayu, istilah perempuan secara gender sangat tidak mewakili, perempuan bermakna milik tuan (laki-laki) dalam sastra melayu, saya merasa tidak obyektif dengan begitu].
Dari generalisasi gender, kita dapat melihat manusia dibedakan menjadi dua jenis yang berbeda dengan perbedaan ciri-ciri fisik secara spesifik sangat jelas terlihat dan tidak terbantahkan. Ciri-ciri itu secara unik menggambarkan kapasitas kemampuan fisik masing-masing gender.
Secara umum Laki-laki memiliki ciri fisik yang berkemampuan lebih baik dari wanita, baik dari koordinasi gerak maupun kekuatan.
Dari sisi ini terlihat jelas bagaimana secara kodrat, laki-laki akan selalu lebih dominan dari wanita, keunggulan ciri fisik yang dimiliki laki-laki membuat dirinya selalu berada satu langkah di depan wanita, saya mengaminkan hal itu, bisa kita lihat bagaimana hambatan keterbatasan fisik seringkali menghambat wanita untuk mengambil kesempatan atau melakukan hal-hal yang bisa laki-laki lakukan. Secara fisik, Wanita sering kali tidak diuntungkan jika dihadapkan dengan laki-laki, sadar atau tidak.
Dominic Strinati dalam bukunya Popular Culture menuturkan bagaimana perbedaan antara Laki-laki dan Wanita sebagai berikut :
“Kaum laki-laki biasanya ditampilkan sebagai bersifat dominan, aktif, agresif dan otoritatif, melakukan berbagai macam peranan penting dan beragam yang seringkali menuntut profesionalisme, efisiensi, rasionalitas maupun kekuatan yang dijalankan secara berhasil. Sebaliknya perempuan biasanya ditampilkan dalam subordinat, bersikap pasif, submisif, dan marjinal, menjalankan pekerjaan sekunder dan tak menarik yang terbatas pada jenis kelamin mereka, emosi mereka, maupun domestikasi mereka”
(1995: hlm. 211)
Berawal dari faktor inilah issue feminisme lahir, ketidak-adilan kodrat yang cenderung memposisikan wanita sebagai manusia jenis ‘nomor dua’ membuat wanita dalam status sosialnya seringkali ditempatkan dalam strata yang lebih rendah. Orang Melayu menamakan wanita sebagai perempuan yang artinya ‘milik tuan (laki-laki)’, kultur budaya suku-suku Arab menganggap wanita adalah makhluk hina yang ada hanya untuk menjadi khadam laki-laki, sehingga memiliki anak perempuan adalah sebuah hal yang hina bagi seorang ayah, sementara dalam peradaban barat sendiri, wanita digambarkan sebagai manusia yang tidak memiliki kemampuan untuk meneruskan garis keturunan.
Perbandingan ciri fisik dan sifat umum yang menjadi bawaan lahir laki-laki dan wanita menjadi doktrin dalam kultur sosio-budaya masyarakat dunia.
Hal inilah yang disikapi oleh para feminist. Kesetaraan kesempatan, kemampuan, dan pengakuan yang sama dengan laki-laki mendorong gerakan untuk membawa wanita ketitik yang dinamakan kesetaraan gender.
Para feminist menganggap perlakuan kaum laki-laki terhadap wanita adalah bentuk sebuah pelecehan dan penjajahan moral dan diri terhadap eksistensi wanita.
Hal itu bisa terlihat dari bagaimana kaum laki-laki memiliki kecenderungan untuk mengeksploitasi wanita secara seksual, penjajahan fisik, perampasan hak intelektual dan status sosial.
Nawal El Saadawi menggambarkan itu dengan sangat jelas dalam bukunnya ‘Perempuan di Titik Nol’, di mana wanita mesir, dalam kehidupannya mengalami eliminasi-eliminasi hak yang berpatokan pada status gender. Di buku itu, Firdaus, si tokoh adalah seorang wanita yang mengalami serentetan kejadian yang tidak humanis dari kaum laki-laki yang ada disekitarnya, yang pada akhirnya menjadikan dia sebagai seorang pelacur yang terdakwa hukuman mati karena membunuh germo-nya.
Lebih jauh lagi, feminisme menyoroti berbagai eksploitasi wanita dalam berbagai hal, termasuk pada dunia marketing. Iklan pada promo suatu produk pada media massa seringkali melibatkan wanita sebagai predikat yang berfungsi sebagai pemanis agar memberikan kesan menarik bagi konsumen yang melihat iklan tersebut. Dalam hal ini ada kestereotipan yang membuat wanita berada diposisi tereksploitasi baik secara intelektual, iconic maupun seksual, karena iklan-iklan tersebut, yang cenderung menampilkan wanita dengan paras menarik, dengan tubuh langsing dengan dada dan pantat yang penuh, digambarkan sebagai ‘hanya’ penunjang dari produk yang diiklankan.
Kehadiran wanita pada iklan-iklan lebih di dominasi untuk kepentingan template semata, dengan gambaran yang tidak objektif terhadap realitas feminisme (wanita pada iklan hanyalah gambaran beberapa persentase kecil dari wanita yang ada didunia nyata, yang parahnya itu terkadang mendoktrinisasi pencitraan wanita,kira-kira seperti itu maksudnya), tanpa melihat kepentingannya dalam fungsi mengkomunikasikan informasi iklan.
Yap, dalam sekelumit ulasan yang saya dapat dari berbagai sumber ini bisa dirangkumkan bagaimana wanita adalah individu-individu yang termarjinalkan dalam sebuah posisi yang tidak menguntungkan pada sebuah lingkungan masyarakat.
Dimana karena faktor gender, wanita mengalami degradasi dalam kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk mendapatkan kesempatan yang sama berinteraksi dalam masyarakat, mendapatkan pendidikan, mendapatkan status dalam strata sosial, dan pada beberapa lingkungan masyarakat, wanita kehilangan untuk mendapatkan perlakuan yang sama dengan laki-laki dalam hukum.
Feminisme dan para feminist telah meletakkan issue-issue tersebut menjadi hal penting dalam sebuah kultural sosio-budaya pada masyarakat dunia, yang pada dewasa ini dengan bebagai kontroversi-nya telah mengubah tatanan strata sosial masyarakat jika dilihat dari faktor gender dan kesetaraannya.
***
Well, Bagaimana relevansi feminisme dewasa ini?
Di beberapa belahan dunia, feminisme telah membawa wanita kederajat yang lebih tinggi dari beberapa dekade yang lalu, cendikiawan dan budayawan wanita banyak bermunculan seiring dengan terbukanya kesempatan untuk mengeksplorasi kemampuan intelektual.
Di Indonesia sendiri hal ini sudah terdeteksi gejala-gejalanya sejak RA. Kartini mendirikan sekolah Putri. Konsepsi wanita sebagai penghuni rumah dan dapur telah menjadi usang, para wanita dan laki-laki berbaur di tempat dan di bidang yang sama seperti sekolah, kampus, kantor-pemerintahan dan perusahaan swasta, bahkan sampai di dunia konstruksi.
Namun seiring dengan pencapaian feminisme dalam memanusiakan wanita, semakin banyak pula bermunculan issue-issue yang terdengar neh untuk diteriakan para feminist sebagai bentuk perjuangannya.
Sunggguh saya kaget waktu beberapa waktu lalu membaca sebuah opini seorang wanita di sebuah majalah wanita pula yang bunyinya kira-kira begini “Kenapa saat wanita bekerja di dapurnya adalah hal yang biasa saja, sementara saat giliran pria yang bekerja terlihat sangat istimewa?”
What the fuck! Ini apa? Apakah feminisme dan kesetaraan gendernya juga menuntut hal-hl yang berbau kodratiah?
Atau sebuah film (saya lupa judulnya apa) yang saya tonton di saluran tivi kabel beberapa waktu lalu, film tersebut, yang diangkat dari kisah nyata, menceritakan bagaiaman industri di sebuah negara dunia ketiga telah mengeksploitasi wanita sampai titik memprihatinkan, dimana buruh-buruh wanita yang bekerja di sebuah pabrik dibayar dengan upah minim, dan acap kali menjadi korban pelecehan seksual pada saat pulang kerja (entah oleh siapa, di film tersebut tidak digambarkan jelas siapa pelakunya, dan tetap menjadi misteri sampai film habis, huh, Hollywood!).
Oughh, saya melihat ini lebih cocok dikategorikan dalam kasus kapitalis-Industrial dan kriminal murni dari pada sebuah gambaran penindasan terhadap wanita.
Terus terang, dibalik semua kekaguman saya terhadap feminisme muncul sedikit keraguan terhadap gerakan itu sendiri, benak saya bertanya apakah ini sebuah perjuangan hak ataukah sebuah kegilaan ego?
So, Dimanakah feminisme seharusnya berdiri?
dimana ya seharusnya ..? ahh sya juga bingung …