Berandai-andai tentang budaya popular. Jika saya diminta membuat sebuah list tentang ‘100 produk budaya popular abad ini’, maka sangat jelas saya akan menempatkan The Beatles dari budaya-musik-popular diurutan pertama, kenapa The Beatles? Kenapa ga Elvis Presley si King of Rock ‘n’ Roll itu? Apa karena Elvis terungkap sebagai alien di film MIB? Wkwkwkwkwk…kiddin’
Kenapa harus empat bocah Liverpool berponi lucu itu? Jawabnya jelas, karena The Beatles adalah ‘produk massal’ pertama dari dunia musik yang dikonsumsi oleh banyak orang dari belahan dunia yang berbeda benua dan dieksploitasi oleh media massa secara massif (pada 1964, di Ed Sullivan Show,USA. Dilaporkan tidak ada pencurian mobil yang terjadi di seluruh kawasan USA pada saat show berlangsung,wew..) dan sangat terindustrialisasi.
Entah bagaimana wajah industri musik popular jika tanpa The Beatles, tanpa album Sgt. Pepper Lonely Heart’s Club-nya. Tanpa John Lennon, Paul Mc Carty, George Harrison, dan Ringo Star saya rasa Industri musik tidak akan menjadi seperti ini.
Ok, berlanjut keurutan dua dari ‘100 produk budaya popular abad ini’, siapakah yang layak menempatinya? Tivi kah? Radio kah? Bioskop kah? ET atau Star Wars yang perwakilan dari dunia film kah? Atau Doraemon? Atau mungkin The Godfather-nya Mario Puzo yang diadaptasi dengan sangat baik oleh Francis Ford Coppola dalam film bertitel sama, The Godfather (sekuelnya juga, Godfather II dan Godfather III)?
Tidak. Walau dengan pasti saya akan memasukkan semua yang saya sebut di atas ke dalam list yang saya buat, tetapi untuk posisi kedua di list itu, saya akan menempatkan Mie Instant ditempat pertama setelah The Beatles. Yap! Mie Instant!
So, kenapa harus mie instant? Barang yang boleh dibilang bernilai ekonomis-rendah ini? Jawabnya sederhana, karena tidak ada produk budaya popular yang sukses dikonsumsi oleh sekian banyak orang di dunia ini, tanpa mempedulikan tingkat intelektual dan status sosial. Bahkan, jika dibandingkan dari efeknya terhadap konsumerisme, The Beatles sendiri pun bisa saja kalah, hanya karena faktor historikal dan, karena list ini saya yang bikin dan saya seorang beatlemania, sehingga The Beatles masih boleh duduk sebagai juara di ‘100 produk budaya popular abad ini’. Wkwkwkw…
Em, berita soal gempa yang lagi happening di tivi seminggu terakhir ini kembali mengocok sisi interest saya terhadap mie instant. Sadar atau ga, setiap kali ada bencana alam di negri ini, mie instant adalah opsi pertama yang menjadi pilihan untuk dijadikan item bantuan korban bencana alam itu, huhu…
Saya jadi ingat film ‘Empire Of The Sun’ film jadul yang background-nya kamp tawanan (pegungsi/ entahlah… pokoknya ironis) imigran Inggris di China waktu perang pasifik di WW II dulu ( maaf kalo judulnya salah, udah lama banget nontonnya). Em, part favorit saya di film itu adalah waktu bantuan makanan di jatuhkan dari pesawat kargo dalam tabung-tabung silinder dengan parasut. Sungguh emosional dan terlihat begitu humanis.
salah satu hal yang menarik dari part itu adalah “Tidak ada saya lihat satu pun mie instant pada tabung-tabung silinder itu” walo semuanya berisi makanan kaleng, ini menunjukkan pada dekade sekitar tahun 1940-an mie instant belum begitu popular. Sangat berbeda dengan sekarang..
So, kenapa mie instant bisa begitu popular dan sekarang ini hampir-hampir menjadi barang subtitusi makanan pokok seperti nasi dan roti? “Instant”? memasak nasi pun sekarang sudah cukup instant, dengan rice cooker memasak nasi bukanlah perjuangan berdarah-darah yang butuhin skill tinggi biar ga gosong seperti dulu,hoho….
Dan kalau analogi instant itu adalah ‘mudah dan cepat mendapatkannya’, sekarang nasi instant dalam bentuk berbungkus daun pisang yang tradisional atau dalam bentuk Styrofoam sangat mudah didapati dimana saja, so, dimana sisi ‘instant’ yang menjadi jargon si mie instant ini?
Mie Instant adalah barang yang awet dan tahan lama? Em, beberapa waktu lalu, sewaktu holiday di rumah nenek di belantara Kalimantan, saya sangat addict dengan yang namanya nasi kalengan, nasi yang disimpan dalam kaleng kedap udara seperti kaleng kornet ato sarden yang dipanaskan dengan tungku khusus itu sebelum disajikan begitu nikmat rasanya, dan itu benar-benar instant! Dan sama awetnya dengan mie instant! Tentu saja lebih bergiji juga dari pada mie instant.
Jadi saya berasumsi satu-satunya yang dimiliki mie instant untuk mewakili prinsip-prinsip konsumerisme (yang menjadi salah satu faktor penentu dalam terbentuknya suatu budaya popular) adalah harganya yang murah, dengan patokan harga antara Rp. 1.000.- s/d Rp. 1.500.- itu mie instant adalah produk yang bisa dibeli tanpa mesti berfikir dulu oleh siapa saja.
Well, harga mie instant memang murah saat kita melihatnya dari perspektif harga, nominal. namun seperti yang kita tau, nilai nominal bukanlah nilai sebenarnya suatu benda/produk, nilai nominal adalah kemasan, bentukan produsen yang meng-ekspose sisi lain produk yang berguna dalam proses meng-afeksi konsumen, sehingga memutuskan untuk mengkonsumsi produk itu. Ingat, marketing mix kedua adalah price atau harga, jadi harga adalah faktor penting kedua setelah produk dalam proses pemasaran suatu produk.
So, kalau kita mau melihat nilai sebenarnya dari mie instant, lihatlah kandungan gizi yang tertera pada kemasannya. Lihatlah apakah jumlah kalori dalam satu kemasan mie instant berbandrol Rp. 1.000.- sebanding dengan barang yang digantikannya seperti satu piring nasi? Terus terang saya ga pernah merasa cukup menggantikan nasi dengan mie instant sebagai menu sarapan yang menjadi sumber kalor pertama saya sebelum beraktifitas….
Huhu…
Mie Instant… mie instant… Riwayatmu kini, entah siapa yang pertama kali memiliki ide untuk membuat hasil adonan tepung dan air ini dalam kapasitas massal, dan menggunakan media untuk memblurkan nilai-nilainya, sehingga jadilah mie instant sebagai produk budaya popular abad ini nomor dua setelah The Beatles :-P…..
Hentikan memberikan bantuan untuk korban bencana alam berupa mie instant! Karena itu mengkebiri sisi humanis dari seorang manusia!
hiks.. Saya yang anak kos demen bgt makan mie instan (dirumah juga :D)
Informasi dan pendapat yang menarik..
Salam kenal
Terlalu banyak makan mie instant juga gak baek..
oh ya?
hidup mie instan ..
hahahaa.a…. eh ini postingan yg keren banged. simple thing but usefull.
emg bener lah, mie instant itu da kayak menu wajib yg kudu ada. biarpun di rumah g ada telur ato minyak ato beras, asal ada mie instant, doa kelaparan bisa terselesaikan :).
mantep ni bro…
ehm.. berarti bisa dibilang sebenarnya "Budaya Instan" lah yang paling populer dalam beberapa dekade belakangan ini?
mie……instan gak pernah bosen makanya………….