Bag pack saya terasa berat saat mikrolet-angkot berwarna kuning berhias cipratan lumpur itu untuk kesekian kalinya melewati saya begitu saja di tengah hujan gerimis, untuk kesekian kalinya juga para tukang ojek dengan sangat bersemangat menggoda-menyurutkan niat saya untuk naik angkot tiap kali mikrolet kuning itu kembali lewat tanpa niat untuk berhenti..
Beberapa kali hal itu kembali terulang, Sopir-sopir angkot itu, yang rata-rata seumuran saya, tampaknya lebih tertarik mengangkut wajah-wajah polos-ceria terbungkus seragam, anak sekolah, yang berjubel memenuhi angkot melebihi kuota muatannya.
Suck! Saya berdiri beku sambil menatap miris melihat kadet-kadet penerus bangsa itu terancam maut dalam nafsu seorang sopir angkot (atau mereka terpaksa melakukan hal itu karena kejar setoran? Mungkin, entahlah…), kecelakaan lalu lintas seringkali disebabkan human error, seperti yang dilakukan sopir-sopir angkot itu.
Sampai akhirnya sebuah mikrolet bobrok berhenti di depan saya, tukang-tukang ojek itu pun dengan serempak memasang wajah kecewa, hujan seharian membuat mereka sepi tarikan. Angkot itu sepi tanpa penumpang, satu-satunya orang yang saya temui di dalamnya selain pak sopir adalah anak kecil berkaos lusuh dengan rok merah seragam SD yang sama lusuhnya, yang dengan sigap mengelap jok penumpang yang basah kena hujan, anak Pak Sopir.
“Pinang merah berapa Pak?” Tanya saya lewat jendela penumpang depan kepada Pak Sopir
“25 ribu Om” jawab pak sopir itu tersenyum.
Suck lagi! Saya heran dengan negri ini, inflasi ga berkesudahan membuat semua, apapun itu, selama memiliki nilai jual, menjadi sangat mahal, bahkan untuk ongkos naik angkot-bobrok-yang-atap-nya-pada-bocor ini. Tanpa protes segera saya melompat ke pintu penumpang, yeah.. bapak sopir itupun ga bisa disalahkan dengan semua akibat inflasi ini, saya dan dia dan banyak orang di negri ini adalah korban dari kebijakan-kebijakan pemerintah (terutama dibidang moneter) yang ternyata ga berakibat positif dalam perbaikan nasib masyarakat kecil.
Duduk diam dengan pikiran menerawang, saya terpikir betapa ironisnya negri ini, sebagian besar masyarakatnya berfluktuasi disekitar garis kemiskinan. Seperti saya dan bapak sopir angkot bobrok ini, yang memanggil saya “om” padahal saya baru 24 tahun, lebih tua 14 tahun saja dari anaknya, huhu…
***
Beberapa tahun terakhir ini saya terjebak dalam sebuah pertanyaan retoris tentang betapa ironisnya negri ini. Sebagian besar masyarakatnya berfluktuasi pada garis kemiskinan. Kebijakan pemerintah untuk meringankan beban mereka yang bernasib malang ini (yang selalu digembar-gemborkan secara massif dimedia masa) ternyata tidak seberapa berdampak dalam perbaikan atau mengurangi kemiskinan. Masyarakat negri ini tetap saja kelewat miskin bahkan untuk bertahan hidup dan mendapatkan pendidikan yang layak.
Siapa yang patut disalahkan? Pemerintah? Sudahlah… tiada akhir kalau menyalahkan pemerintah dan kebijakannya. Seburuk-buruknya pemerintah negri ini, paling ga mereka sudah menyediakan sarana-prasarana untuk kita bisa hidup layak (walau mengap-mengap). Beban pemerintah sama beratnya dengan yang dirasakan negri ini, digerogoti luar dalam oleh musuh-musuhnya, So, biarkan saja! Toh orang-orang berkuasa di pemerintahan itu sudah dihukum Tuhan dengan dicabut nikmat-Nya, bahkan untuk tidur, dan untuk yang korup, Tuhan sudah menjanjikan tempat terbaik di Neraka nanti. Jadi kita nikmati saja apa yang mereka hasilkan saat ini.
Namun, dari banyak hal yang sangat ironis dari orang-orang yang negri ini rasakan, ada banyak dari ke-ironis-an itu lebih terasa pada anak-anak. Ya, kadet-kadet penggerak bangsa ini sudah harus menanggung dari kemerosotan ekonomi, moral, sosial dan budaya negri ini di usia mereka yang begitu muda.
Dibandingkan dengan kondisi saya waktu seusia mereka dulu, walau tidak lahir ditengah keluarga yang berekonomi cukup baik, bahkan terkadang kurang, apa yang mereka rasakan saat ini membuat yang saya rasakan dulu menjadi tidak ada apa-apanya.
Saya masih bisa menikmati asiknya mencoret-coret halaman belakang buku tulis pelajaran IPS saya, menggambar tokoh Power Rangers atau Dragon Ball, dan membaca buku di perpustakaan (terkadang mencuri baca di toko buku korporat-suck juga). Sedangkan anak-anak saat ini, banyak dari mereka yang untuk membeli buku tulis pun sulit, apalagi cukup tega mencoret-coretnya, dan lebih banyak lagi dari mereka yang tidak punya waktu untuk mampir ke perpustakaan karena tidak punya waktu! Waktu mereka dihabiskan untuk membantu orang tua mencari nafkah atau mencarikan nafkah untuk orang tuanya.
Apakah karena mereka tidak beruntung karena terlahir dikeluarga yang kurang beruntung dari segi ekonomi? Dan bagaimana anak-anak yang terlahir ditengah keluarga yang cukup mampu? Bagaimana dengan mereka?
Well, Ironi ini ternyata juga dirasakan (entah secara langsung atau tidak) anak-anak dari status sosial-ekonomi yang lebih tinggi. Kerusakan tatanan moral di luar lingkungannya, kerusakan alam dan lemahnya sistem pendidikan menjadikan mereka makhluk-makhluk terdikte, ‘tameng’ lingkungan dan orang tua menjadikan mereka makhluk-makhluk bermental lembek yang tidak memiliki naluri dasar yang murni untuk bertahan hidup.
Mereka tidak pernah merasakan luka karena terjatuh ditanah kerikil karena halaman yang mereka kenal adalah beton halus yang memanjakan. Mereka, tidak tahu kerasnya hidup diluar sana.
Yap, sebagian besar anak-anak negri ini telah berubah fungsi menjadi kelas pekerja tanpa kita sadar, bersaing ketat dengan para kelas pekerja semi pengangguran seperti saya, mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup mendasar seperti pendidikan, makan, minum dan berpakaian layak. Mereka tidak lagi menikmati indahnya menjadi anak-anak, mereka tumbuh terlalu cepat menjadi dewasa dalam tubuh kecilnya, yang seringkali tidak sanggup menahan beban kedewasaan itu.
Dan sebagian lagi tumbuh menjadi orang-orang yang terlambat dewasa karena lingkungan yang terlalu memanjakannya. Terpuruk dalam dunia ‘instant’ ciptaan uang orang tua mereka. Mereka akan tetap menjadi anak-anak pada saat tubuhnya menjadi dewasa.
Cukuplah sudah derita anak-anak negri ini, sudah tidak perlu lagi ada acara berita-semi-kriminal yang menayangkan cerita seorang anak yang bunuh diri karena tidak mampu membayar biaya sekolah. Tidak perlu lagi terdengar cerita ‘idiot’ berdasi yang memporak-porandakan negri ini. Tidak perlu lebih banyak lagi cerita seperti di novel “Laskar Pelangi” untuk menunjukkan ke-ironis-an mereka. Kembalikan mereka ke kodratnya sebagai anak-anak.
“Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu…
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu…”