Satu hal yang menarik di siaran televisi buat gw adalah commercial break-nya. Disiplin ilmu marketing yang jadi pakem utama pendidikan formal gw bikin gw prefer banget ma yang namanya iklan, rasanya menyenangkan melihat bagaimana orang-orang itu “berjualan” lewat media.
Jadilah hari ini sambil jagain ponakan yang lagi sakit, tangan gw ga henti-hentinya memencet tombol remote-mencari saluran tivi yang lagi nayangin commercial break.
Em, Ada satu iklan produk bola lampu yang menarik gw hari ini, dengan statement “produk dalam negri” sebagai jargon utamanya [benarkah produk bola lampu ini produk asli dalam negri? Ato cuma mengakali biaya produksi karena upah tenaga kerja di negri ini relatif murah? Entahlah…]. Dan gw berikan aplaus meriah untuk bapak-bapak [beliau itu sapa ya?] yang bilang “Cintailah produk negri ini” dengan baju batik dan semangat yang dibuat-buat di klimaks iklan tersebut.
Produk dalam negri? Ah, sebuah kalimat yang klise, bahkan gw sendiri bingung, apa saja produk dalam negri ini yang gw konsumsi selain T shirt hasil industri-kecil-independent yang gw pakai ini. Hampir semua yang gw pakai adalah sesuatu yang berlabel Made in China, ato mungkin berlabel Made in Indonesia tapi punya perusahaan asing berskala internasional, apa yang masih murni produk negri ini sekarang?
Bahkan teh yang gw minum pagi tadi, dan rokok yang hisap saat ini adalah bukan produk milik negri ini lagi….
Ya, semenjak lebih banyak aset Negara yang di privatisasi dan lebih banyak lagi industri-industri nasional yang diakusisi oleh pihak asing, produk-produk asli dalam negri yang kompeten menguap entah kemana.
***
Seringkali gw terhanyut dalam arus retoris kenapa produk dalam negri ini ga sanggup berkompetensi di pasar yang notabene “lahan”nya sendiri.
Terkadang gw berasumsi karena negri ini kekurangan pakar marketing yang mumpuni untuk memasarkan produk-produk negri ini sendiri sebagai jawabannya [sekian tahun dunia marketing Indonesia hanya diwakili oleh Hermawan Kertajaya, sedangkan Philip Kotler-Philip Kotler baru terus bermunculan di luar sana].
Ato terpikir asumsi lain kalo sebenarnya ada banyak marketer-marketer lokal yang mumpuni selaen Pak Hermawan Kertajaya itu, Cuma mereka bingung mo mengusung produk asli negri ini yang mana untuk dijual, karena tidak ada satu pun dari produk-produk itu yang memiliki nilai jual.
Ahh, bodohnya gw mencari jawaban dari sesuatu yang retoris.
Tapi terus terang gw miris dengan kurangnya SDM-tangguh yang dimiliki negri ini yang mampu berjibaku dengan serigala-serigala kapital diluar sana selain para TKI, yop! Satu-satunya SDM yang bisa dibanggakan negri ini adalah para tenaga kerja-buruh yang jumlahnya luar biasa banyak.
Apa yang salah? Bukankah negri ini punya begitu banyak sarana-sarana untuk mencetak cendikiawan dan tenaga ahli diberbagai bidang? Dan Negri ini pun punya banyak bibit-bibit kompeten yang menunggu dipoles oleh sarana-sarana pendidikan tersebut untuk menjadi motor hebat yang menggerakan roda negri ini?
Seorang teman pernah ber-opini kalo hal itu disebabkan sistem yang salah, sistem pendidikan yang salah. Penetapan standar nilai yang terlalu tinggi, kapitalisasi dunia pendidikan dan kurikulum yang absurd adalah penyebab kurang maksimalnya pencapaian dari dunia pendidikan negri ini.
Yup, gw setuju-setuju saja dengan opini teman gw itu. Tapi kalo kita menyikapi hal tersebut dengan apa yang dimaksud Darwin dengan “seleksi alam”, opini teman gw itu mungkin bisa dipertanyakan relevansinya [maap, bukan berarti gw seorang Darwinis, gw hanya mencoba menganalogikan hal ini dengan teorinya, huhu…].
Dengan mengindahkan sistem bobrok dunia pendidikan kita, gw menganalogikan dunia pendidikan dengan semua sistemnya sebagai alat seleksi alam, dan kita sebagai obyek-nya [Mungkin memang agak berlebihan dan ga manusiawi ya]. Dimana kita dipaksa melewati proses seleksi dan memeliki kemungkinan ter-eliminasi, tergantung kita selama proses seleksi tersebut, hingga pada akhirnya hanya menyisakan individu-individu yang kompeten yang keluar sebagai seorang juara.
Um, gw jadi teringat masa kuliah dulu. Waktu harus berjuang keras “melewati seleksi alam” agar ga ter-eliminasi. Entah karena terlalu banyak nge-baca literatur soal idealisme, ato karena memang ga berbakat melakukan trik-trik yang lazim digunakan para mahasiswa dalam menghadapi “seleksi” ini, gw selalu berusaha bersikap diluar mainstream setiap kali menghadapi seleksi ini. Dengan narsis gw ga mau ikut-ikutan bikin note kecil yang mungkin berguna kalo ujian, ato hanya dengan sangat terpaksa “nyontek”,hahaa…[yang banyaknya berakhir dengan frustasi karena ga ada yang mau nyontekin, karena gw ga punya sesuatu yang berharga berupa jawaban untuk soal-soal yang lain sebagai barter nya, hahaha].
Hasilnya? Sudah tentu, skor penuh untuk teman-teman gw yang “cerdas” ga mau idealis, dan IPK di bawah rata-rata untuk si bodoh ini. fufufufufufufufufu….apakahgw ngerasa rugi? Ga banget! Gw bersyukur karena sudah pernah berbuat jujur dengan diri gw sendiri.
Terus apa yang terjadi ma gw dan teman-teman gw itu setelah sekarang mulai bertarung di “dunia nyata”? sama aja, semuanya sama tertatih-tatihnya dengan gw, karena untuk bertahan di luar sana ternyata butuh kematangan, keberuntungan, peluang dan kesempatan.
Kematangan dalam menyikapi dan memakai semua disiplin ilmu yang didapat selama proses seleksi itu akan lebih berguna dari pada angka-angka yang tertera di transkip nilai, dan diluar sana “catatan kecil- penyelamat” di ruang ujian tidak akan membantu saat berhadapan dengan musuh sebenarnya, oportunis yang memiliki kematangan intelektual sebenarnya.
Catatan kecil-penyelamat itu hanya membuat orang-orang yang teradiksi menggunakannya menjadi mollusk, kerang yang tampak keras di luar, tapi ga punya sesuatu yang bisa diandalkan untuk melindungi dirinya. Sedangkan orang-orang yang memang menggali potensi dirinya selama proses seleksi itu menjadi seekor hiu, yang memiliki kemampuan terbaik untuk bertahan hidup.
Itulah sebenarnya yang salah. Sistem absurd di negri ini dan dimix dengan sikap yang tidak fair terhadap diri sendiri dari masing-masing individunya lah yang patut disalahkan. Sesuatu yang salah yang menciptakan “kebodohan” sebagai produk andalan negri ini. Kebodohan untuk menipu diri, kebodohan untuk terus tereksploitasi, kebodohan untuk malu mengakui kelemahan, kebodohan untuk sombong sebagai seorang yang tidak punya kemampuan.
Yup! Negri ini adalah produsen terbesar kebodohan!
Dan maap saja, gw ga terlalu bodoh untuk mencintai kebodohan….
***
Rupanya produsen bola lampu itu punya budget gede buat promo, iklannya berulang kali diputar di channel yang berbeda,ahhh..andainya gw punya budget segitu besar buat mewujudkan mimpi gw menjadi pedagang no.1 di dunia..haha
Ponakan gw dah tertidur pulas, em, saatnya gw kembali bekerja, mengumpulkan remah-remah dari si Hiu besar. Toh, sesuatu yang besar berawal dari hal yang kecil bukan?
stand up! with everything you’ve got. Cus after all we’re the one whos winning
Kadang Indonesia ini terlalu lemah jika berhadapan dengan uang
Negeri ini memang bodoh tapi karena ada bodoh maka pintar bisa disebut pintar
generalisir eh?
*kabur*
generalisir eh?
*kabur*