• Blog
  • Tumblelog
  • Photos
  • Colophon
  • Contact
  • Lifestream
  • Log in

Tag Cloud

3G 21cineplex Access iTunes Store Add new tag Adobe akismet andra and the backbone antivirus api apple account apple id automattic banjarmasin banjartv Daily Life email facebook flash flash unlimited flickr gmail iphone kayuhbaimbai konser n76 nod32 nokia n76 speedy speedy competition telkomsel telkomsel flash telkom speedy theme twitter typepad typepad antispam w550i w880i windows media player wmp wordpress wordpress 2.7 WP xl xl bebas

Popular

  • How To Update Antivirus NOD32 » Anomali.net (1965)
  • How To Update Nod32 V3 » Anomali.net (1196)
  • Yamaha Mio Soul, Evolusi Mio atau Nouvo? » Anomali.net (420)
  • Kelemahan Utama N76, Chrome Mudah Terkelupas » Anomali.net (207)
  • Tagihan Bulan Pertama Telkomsel Flash Unlimited » Anomali.net (116)
  • Mengenal Fitur-fitur Baru Wordpress 2.7 » Anomali.net (61)

Comments

    • Comment on Google Chrome, Browser Alternatif dari Google by Drum Sets For Sale
    • Comment on Yamaha Mio Soul, Evolusi Mio atau Nouvo? by pakaian import ready stock
    • Comment on QWERTY by zee
    • Comment on How To Update Antivirus NOD32 by rickiaje
    • Comment on Jadilah Spammer Karena Twetterfollow by moffey
    • Comment on Hamdi.web.id, Situs Torrent Tracker Indonesia by iBud
    • Comment on Kenapa Dunia Begitu Indah? by zee
    • Comment on Kenapa Dunia Begitu Indah? by aap
    • Comment on I’m Alien by agungaritanto
    • Comment on Musim Hujan Jalan Pun Tergenang by ilamona

Resources

Archives

  • March 2010
  • January 2010
  • December 2009
  • November 2009
  • October 2009
  • September 2009
  • July 2009
  • June 2009
  • May 2009
  • April 2009
  • March 2009
  • February 2009
  • December 2008
  • November 2008
  • October 2008
  • September 2008
  • August 2008
  • July 2008
  • June 2008
  • May 2008
  • April 2008
  • March 2008
  • January 2008
  • December 2007
  • November 2007
  • October 2007
  • September 2007
  • August 2007
  • July 2007
  • June 2007
  • May 2007
  • April 2007
  • March 2007
  • 0

Live Blogroll

Popular Culture today….

May 2, 2009

Aghh…Nightmare!
Gw kebangun dari tidur yang harusnya jadi tidur “ideal”- yang nyaman di tengah malam buta gara-gara mimpi buruk-aneh yang lebih berbau fiksi ilmiah dari pada horror!.

Alkisah di dalam mimpi itu gw lagi terlibat proyek “massive” ma seorang ilmuwan yahudi hasil kloning silang antara Einstein, Oppenheimmer, ma Stephen Spielberg [sehingga dapat dimaklumi kalo doi ahli banget soal fisika ma rekontruksi fantasi] untuk bikin mesin waktu, Dengan penyandang dana sebuah organisasi keuangan milik orang-orang Yahudi juga.

Sebenanya gw males kelibat di proyek ini, coz dari isu yang gw denger mesin yang lagi gw kerjain ini bakal di gunain untuk mengekploitasi sisi Rohani dari orang-orang ber-agama samawi (Muslim, Nasrani dan Yahudi) untuk kepentingan bisnis! Kabarnya mereka tertarik ingin bikin paket wisata bersama 25 Nabi dan Rasul setelah melihat sukses paket wisata Umroh dan Ziarah Wali Songo yang dikerjain beberapa travel tour lokal! Huahh….
Jadi di paket wisata si Yahudi ini orang-orang bisa langsung ngeliat “live” peristiwa Nabi Musa as ngebelah laut merah, ato ikutan nginap satu malam di bahtera Nabi Nuh as dengan fasilitas royal suite ( kabarnya mereka bakal nge-renov kapalnya Nabi Nuh as jadi ga kalah mewah dari Titanic), dan sebagainya..
Hemmm…

Tapi dasar Yahudi berotak ajaib-picik, mereka sukses juga ngebujuk gw buat ikutan di proyek ini dengan imbalan bisa nonton “live” show-nya The Beatles di Ed Sullivan Show pas The Beatles tour ke Amrik taon ’64! 
Jerk!! Mereka tau banget kalo gw seorang konsumen aktif budaya popular dan semua komoditasnya!

Jadilah dengan motivasi bakal nonton live show-nya The Beatles, gw rela kerja rodi siang malam (ternyata kerja ma Yahudi kurang lebih parahnya ma kerja dengan Jepang). Setelah beberapa kali gagal, mulai jadi bulan-bulanan dinosaurus kaya nobita ma doraemon gara-gara salah setel taon, sampai nangis-nangis minta tobat gara-gara kelempar kemasa depan pas bumi lagi kiamat. Akhirnya proyek massive ini kelar juga.

Gw pun dengan hati yang riang gembira menagih janji mereka bakal ngebolehin gw make mesin waktu itu untuk nonton The Beatles di Ed Sullivan Show! Dan ga disangka! Si Yahudi ternyata menuhin janji-nya itu! (heran, Nabi Musa as aja di bohongin ma mereka, tumben banget). Jadilah dengan rambut yang khusus di set mop top dan setelan Armani gw berangkat ke taon ’64 untuk ngeliat live The Beatles tadi.

Tapi rupanya gw terlalu senang sampai lupa kalo duit yang gw bawa ga berlaku! (dikasih Yahudi tadi juga, bonus bilangnya. Tapi ngasihnya Rupiah bukan Dollar! Huahhh!! Yahudiiii….). Gw jadi ga bisa beli tiket buat masuk studio-nya si Mr. Ed!!!

Aghhhh…..Nightmare!

***

Nightmare yang kejam banget itu bikin gw ga bisa tidur lagi, perasaan gw masygul sekalian bete gara-gara [lagi-lagi] gagal nonton live-nya The Beatles walo cuma di mimpi. Gw nyalain lampu meja [jiahh! Kamar losmen nenek gw mang mantaph! Ada lampu mejanya ding! Ahahaha], gw liat buku Popular Culture-nya Dominic Strinati yang gw baca sebelom tidur tadi masih tergeletak di tempatnya.

Ahh, iyaa… gw tadi baca bab Mazhab Frankfurt yang salah satu pokok bahasannya adalah Industri Budaya. Well. Gw jadi keingat mimpi gw tadi yang sangat-sangat sebuah implementasi Industri Budaya.
Aa…Menurut Mazhab Frankfurt tadi, Industri Budaya itu dibentuk sedemikian rupa sehingga budaya populer menjadi suatu komoditas yang menjadi kebutuhan orang, yang secara ga sadar terikat untuk mengkonsumsinya. 
Kebutuhan palsu yang diciptakan untuk dikonsumsi oleh orang-orang yang sebenarnya tidak membutuhkan komoditas itu seperti dia membutuhkan komoditas riil (sandang, pangan, papan, pendidikan murni, dsb yang “menurut gw” adalah komoditas yang menunjang hidup orang itu sendiri).
Contohnya adalah Tiket konser The Beatles di Ed Sullivan Show [di mimpi gw] tadi. 
Well, apa sih yang hebat dari empat remaja tanggung dari Liverpool yang kebetulan berwajah cute dan jago bikin lagu-lagu bagus sebelom di poles oleh alat-alat industri budaya sampai tour mereka di Amrik sono pada taon ‘64 jadi momentum yang bersejarah? 
Nothing! 
Musik mereka menjadi candu karena media.
Hair cut mereka menjadi tren karena media.
Setelan mereka adalah pakaian biasa yang berprogres menjadi luar biasa karena media.
keempat remaja tanggung itu menjadi “anak ajaib” karena media.

Yap! Media menjadikan mereka trendy dan popular dan kemudian menjualnya dalam suatu bentuk icon budaya secara instant! tau berapa kisaran duit yang berputar untuk mengakses dan mengkonsumsi berbagai hasil olahan dari The Beatles mulai dari single, album, film sampai merchandise berbentuk wig selama taon 1959-1965? 
BANYAK BANGET! 
[ Coba alat-alat industri budaya itu juga mengeksploitasi gw kaya The Beatles yak, mungkin gw sekarang ga cuap-cuap gini gara-gara mangkel ma Nightmare bodoh tadi,hahahaha].

Industri budaya menjual komoditasnya yang paling popular dalam bentuk The Beatles di masa itu. Memaksa orang-orang yang terikat jaring konsumerisme semu untuk terus mengkonsumsinya [padahal secara logis mereka tidak membutuhkannya] hingga sampai titik dimana komoditas itu kehilangan nilai jualnya dan industri budaya pun meninggalkannya begitu saja, kemudian mencari komoditas baru untuk dijual kembali.
Dan bodohnya, orang-orang yang terikat jaring konsumerisme semu itu kembali datang untuk mengkonsumsinya. Dan Labirin popular ini pun terus membawa mereka sampai sekarang.

So, jadi sangat beruntung orang-orang yang sukses menjauhkan dirinya dari gegap gempita dunia showbiz? 
Not yet!!!!
Seiring waktu Industri Budaya merasuk ke berbagai hal, yang selama ini jarang di pikirkan orang sebagai bentuk budaya popular, secara halus dan betul-betul tidak terasa, bahkan dengan caranya, menjadi parasit yang berinangkan kebutuhan-kebutuhan riil manusia itu sendiri.

Ambilah contoh trend tekhnologi informasi dalam kasus kebutuhan manusia untuk berkomunikasi. Seperti telepon. Dulu telepon berfungsi sebagai alat komunikasi jarak jauh yang mengefisienkan waktu untuk dapat bertukar informasi, sekarang? Sama, telpon masih berfungsi dasar seperti itu, cuman seringkali termanipulasi oleh trend sehingga value atas manfaatnya menjadi secondary, tergeser oleh trend fetish yang dibentuk oleh media atas telpon [dan berbagai variannya seperti HP, PDA,dsb] itu sendiri 
[gw pernah chat ma seorang temen yang kebetulan pake BB, yang sekarang lagi trend banget itu. Karena pengen tau apa hebatnya BB, gw iseng nanya soal OS dan fitur lainnya. Trus temen gw itu bilang dia sendiri ga tau apa hebatnya OS dan fitur si BB itu tadi dibandingkan dengan HP yang biasa! Hah! Bentuk konsumerisme yang paling ajaib telah ditemukan! Budaya popular menjadikan BB yang jauh dari benda-budaya menjadi komoditas bernilai tinggi di konteks budaya popular! trend! Ajaib…].

Well, Industri budaya sudah merasuk kemana-mana sekarang. Bahkan ketika lo baca post di notes ini secara ga sadar lo sudah menjadi konsumennya [sadarkah kita kalo FB adalah sebauh produk budaya popular yang temporary? Yang kebetulan akhir-akhir ini lagi happening?]. Industri Budaya mengkalkulasikan fee yang harus kita bayar kedalam biaya-biaya yang secara ga sadar kita bayar untuk mengkasesnya [Berapa biling warnet lo sekarang? Hehe…].

Mengesalkan bukan, Gw, elo dan semua orang yang hari ini berupaya untuk hidup dengan “benar”, ternyata telah ditipu mentah-mentah oleh bentuk kapitalis yang mengkamuflasekan dirinya menjadi sesuatu yang sangat manis. 
Saat kita bercermin merapikan kemeja yang sedianya mo dipake buat kuliah ato bekerja, Saat kita menikmati berita pagi di televisi sambil sarapan, saat kita mendengarkan musik di HP/mp3 player waktu menunggu kuliah mulai, saat kelaperan di tengah malam trus bikin mie instant (mie instant adalah “budaya popular”? yap!) bahkan sampai waktu kita membaca novel manis terbitan gramedia sebelom tidur!
Saat itu juga kita mesti membayar semua “kebutuhan” semu yang ditawarkan oleh Kapitalisme-Indutri-Budaya-Populer.
Apa yang bisa kita lakukan sekarang? 
Ga ada…..
Kita hanya bisa ada disini untuk terus-menerus terjebak di “mesin” kapital yang menciptakan konsumerisme fetish, yang berbentuk manis, murah dan adiksi.
menjalankan rodanya, ter-eksploitasi tanpa sadar, dan terus menerus seperti itu.

Well, welcome in the fake plastic world guys!

ariPosted by ari

No Related Posts

  • Kuliah atau Kerja, Resign, atau Bertahan
  • Konfigurasi T-sel Flash Unlimited di Ubuntu Linux
  • Tagihan Bulan Pertama Telkomsel Flash Unlimited
  • Nameserver is down…
  • Yes! HSPDA is Back ON
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

This website uses IntenseDebate comments, but they are not currently loaded because either your browser doesn't support JavaScript, or they didn't load fast enough.

11963 Responseshttp://anomali.net/2009/05/02/popular-culture-today/Popular+Culture+today....2009-05-02+04%3A03%3A56ari

  1. benkyo says:
    May 2, 2009 at 5:24 am

    ma ae panjang tulisan na…. *pusing*

    Reply
  2. reza says:
    May 2, 2009 at 3:12 pm

    sama pusing jua

    Reply
  3. mantap says:
    December 18, 2009 at 4:19 am

    keren.mantap..

    Reply

Trackbacks/Pingbacks

Leave a Reply

Click here to cancel reply.

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>


© Anomali.net 2007-2008, Anomali.net proud to be served by WordPress
Theme: FlickrMac flavored from OSDesigner

אורן יומטוב