Berkeluh kesah

October 17, 2008

Pagi hari aku dibangunkan suara telpon yang mengganggu telingaku, malam tadi aku baru saja tertidur jam 4 pagi, karena membantu saudaraku yang ‘komputernya’ mengalami hang, karena keadaan dalam separuh sadar maka tanganku mulai meraba2 disekitarku, mencari sumber suara yang mengganggu jam menunjukkan jam 09.00 pagi, dan akhirnya aku menemukan hp ku itu dan mulai memandang dengan jelas nama yang tertera… Astaga!!!! XXX…!!!

Jujur, untuk dia aku akan seketika menjawabnya, walaupun aku sudah kehilangan dia dan masih ada rasa sayang tertinggal didalamnya. Seketika aku menjawabnya, dengan keadaan yang masih ’separuh’ nyawa aku berusaha menjawabnya, mendengarkan suara indahnya yang walaupun sudah lama masih terdengar familiar ditelingaku.

Bercerita tentang hidupnya yang terasa bagai neraka dengan berbagai macam permasalahnnya, pastilah yang membaca akan bertanya memangnya kenapa? Intinya dia terjebak di zaman Siti Nurbaya yang dipaksakan kezaman modern yang tingkat komunikasinya mudah… Lama aku berbicara dengannnya… Sungguh… Jaringan wireless membuat seseorang yang jauh terasa dekat… Namun sial!!! Posisi yang mengantuk membuat konsentrasiku menurun… Dan hanya menjawab dengan kata2 yang menurutku terdengar basi!

Entahlah…

Kata-kataku membuatnya tersinggung dan seketika itu pula menutup telpon. Sadar akan kesalahanku segera aku telpon kembali, yang kudapat hanya reject telpon. Segera setelahnya kuterima pesan singkat yang isinya “Maaf slma nie dah mrepotkn!Maaf jg lo slma nie km mrsa ky gt..,!!Gk ad niat sbnrny bkn ky gt…Krn mang skrg nie gk ad kbhgian yg ak dpt…Skrg nie cm mslh n mslh yg ad…cman it yg bs ak ceritakn k km n cm km tmpt bkeluh kesah ku…Maaf”.

Jujur, bukan kata-kata ini yang kuharapkan…

Kau mendadak hilang dalam hidupku…

Kau mendadak pergi…

Sungguh aku tak pernah berharap hidupku bagai sinetron…

Tapi aku masih tegar menghadapi pengakuanmu dulu…

Aku masih menjadi pendengarmu yang baik…

Aku masih memandangmu dengan tulus…

Aku tak pernah jadikan dirimu musuhku…

Aku masih tempat berkeluh kesahmu…

Aku tak berniat merusak rencana yang kuasa terhadapmu…

Aku sudah pasrah dan ikhlas…

Maaf apabila aku salah…

Maaf apabila aku tak bisa menjadi pendengar yang baik…

Paling tidak akulah pendengar setiamu…

Teruslah tersenyum, teruslah tertawa…

Kau tak tau sakitku… Aku masih tersenyum… Maaf…

Aku tak bermaksud begitu…

Posted by dixcy
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.