• Blog
  • Tumblelog
  • Photos
  • Colophon
  • Contact
  • Lifestream
  • Log in

Tag Cloud

3G 21cineplex Access iTunes Store Add new tag Adobe akismet andra and the backbone antivirus api apple account apple id automattic banjarmasin banjartv Daily Life email facebook flash flash unlimited flickr gmail iphone kayuhbaimbai konser n76 nod32 nokia n76 speedy speedy competition telkomsel telkomsel flash telkom speedy theme twitter typepad typepad antispam w550i w880i windows media player wmp wordpress wordpress 2.7 WP xl xl bebas

Popular

  • How To Update Antivirus NOD32 » Anomali.net (1965)
  • How To Update Nod32 V3 » Anomali.net (1196)
  • Yamaha Mio Soul, Evolusi Mio atau Nouvo? » Anomali.net (420)
  • Kelemahan Utama N76, Chrome Mudah Terkelupas » Anomali.net (207)
  • Tagihan Bulan Pertama Telkomsel Flash Unlimited » Anomali.net (116)
  • Mengenal Fitur-fitur Baru Wordpress 2.7 » Anomali.net (61)

Comments

    • Comment on Yamaha Mio Soul, Evolusi Mio atau Nouvo? by pakaian import ready stock
    • Comment on QWERTY by zee
    • Comment on How To Update Antivirus NOD32 by rickiaje
    • Comment on Jadilah Spammer Karena Twetterfollow by moffey
    • Comment on Hamdi.web.id, Situs Torrent Tracker Indonesia by iBud
    • Comment on Kenapa Dunia Begitu Indah? by zee
    • Comment on Kenapa Dunia Begitu Indah? by aap
    • Comment on I’m Alien by agungaritanto
    • Comment on I’m Alien by hanif
    • Comment on I’m Alien by benkyo

Resources

Archives

  • March 2010
  • January 2010
  • December 2009
  • November 2009
  • October 2009
  • September 2009
  • July 2009
  • June 2009
  • May 2009
  • April 2009
  • March 2009
  • February 2009
  • December 2008
  • November 2008
  • October 2008
  • September 2008
  • August 2008
  • July 2008
  • June 2008
  • May 2008
  • April 2008
  • March 2008
  • January 2008
  • December 2007
  • November 2007
  • October 2007
  • September 2007
  • August 2007
  • July 2007
  • June 2007
  • May 2007
  • April 2007
  • March 2007
  • 0

Live Blogroll

Dibalik Tiga Nama Metro

July 1, 2007


Semenjak kehadiran Mal Duta di Banjarmasin, seolah-olah memiliki daya magnet begitu kuat sehingga dapat menarik masyarakat Banjarmasin menuju mal pertama di Banjarmasin ini. Imbasnya, pusat perbelanjaan lain mulai ditinggalkan dan terlihat saban akhir pekan dimana antrean masuk menuju Mal Duta begitu panjang, sedangkan disisi lain, pusat perbelanjaan yang lain hanya terjadi tren peningkatan kunjungan sedikit meningkat dibandingkan hari-hari biasa.

Salah satu pusat perbelanjaan yang sudah berbenah menghadapi persaingan memperebutkan minat berkunjungan masyarakat di Banjarmasin adalah Metro (nama familiarnya). Saat ini, klo Metro diibaratkan seperti produk sekarang sedang berada di posisi decline pada kurva product life cycle. Biasanya dalam posisi seperti ini, setiap perusahaan harus melakukan rejuvinasi (peremajaan) untuk mengembalikan agar kurva mereka naik atau dalam kondisi growth. Contoh yang paling gres adalah bagaimana manajemen Es Teller 77 meremajakan brand mereka. Nama Es Teller 77 tetap dipertahankan, mereka melakukan peremajaan terhadap logo, menyasar ke segmen young teenagers, program-program marketing yang baru, dan terutama sekali adalah redesign secara besar-besaran semua outlet mereka.

Apa yang dilakukan oleh manajemen Metro? Metro sekarang udah memposisikan diri sebagai “Pusat Komputer dan Handphone“, udah jor-joran mengadakan berbagai even, dan laen-laen (ini udah tepat). Tapi, gue lebih tertarik dengan pergantian nama yang mereka lakukan sebanyak 2x di akhir taon 2006 dan di bulan Juni 2007. Totalnya mereka udah punya 3 nama, 2 udah almarhum yang satu baru aja diluncurin tepatnya tanggal 2 Juni 2007 yang lalu. Mari kita telaah satu-persatu nama-nama tersebut:

Plaza Metro City, sekilas nama ini bener aja malah enak didengar klo disingkat “PMC”. Akan tetapi, klo kita mengacu pada kaedah tata bahasa Indonesia yang menggunakan hukum DM bukan hukum MD (bahasa Inggris), maka klo kita artikan dalam bahasa Indonesia: Plaza Metro City = Kota Metro Plaza. Seharusnya, klo memang ingin ngasih nama dalam bahasa Inggris bukan Plaza Metro City, akan tetapi Metro City Plaza. Coba kita liat penamaan mal di Jakarta: Mal Taman Anggrek, Plaza Senayan, Plaza Indonesia, Mal Kelapa Gading, dan Plaza Semanggi. Semuanya menggunakan kaedah bahasa Indonesia yang benar dalam penamaan pusat perbelanjaan mereka.

Metro HI Center, mulai ngga konsisten pada penamaan ini. Pada awalnya diperkenal denga nama Metro City HI Center kemudian berubah lagi jadi Metro HI Center. Duh, padahal di banyak billboard tertulis Metro City HI Center. Masih menggunakan kaedah bahasa Inggris, lalu kita terjemahkan dalam dalam bahasa Indonesia: Metro HI Center = Pusat Tinggi Metro. Kata “hi”, tidak dipasangkan dengan kata yang lain. Yang dimaksud tinggi disini apa? Apanya yang tinggi? Bangunannya kah?Mungkinkah HI disini maksudnya “High Innovation”? Bisa aja, tp koq saat peluncurannya ngga dibilangin yach.

Metro Hi-tech Mall, hampir bener dalam penamaan. Nama tersebut akan menjadi masalah apabila kita sandingkan antara mal dengan plaza. Plaza dan mal berbeda definisinya dengan shopping plaza dan shopping mall. Plaza dan mal sudah mengalami perluasan makna setidaknya setelah digunakan untuk pusat perbelanjaan.

Selama ini di Indonesia (sepengetahuan gue), masih terjadi salah kaprah dalam penamaan pusat perbelanjaan. Mana yang layak disebut mal? Mana yang disebut layak plaza? Malah banyak orang menilai sebenarnya itu mal tetapi manajemennya tetap lebih suka make nama plaza! Misalnya Plaza Indonesia. Gue yakin antara plaza dan mal tetap memiliki perbedaan.

Yang jadi pertanyaan, layakkah Metro dikategorikan dan menyandang nama mal? Pada saat dalam posisi decline lazimnya suatu perusahaan melakukan rejunivasi menyeluruh, ini yang tidak dilakukan oleh Metro. Rejunivasi yang biasanya selalu disertai redesign secara fisik bangunan atau layout (contoh: Sudirman Place yang sekarang disulap menjadi FX Sudirman). Secara fisik bangunan Metro, kamu bisa liat sendiri ngga ada perubahan fisik bangunan dibanding 3 taon yang lalu. Padahal klo kita melihat definisi mall (Amerika Utara dan Australasia) memiliki arti tempat yang ‘luas’ dalam satu bangunan yang terdiri dari berbagai macam toko, biasanya didukung oleh satu atau lebih departement store yang dikeliling oleh tempat parkir.

Sebuah mal harus memiliki tempat terbuka (walaupun tetap beratap) yang biasa disebut atrium (ini yang gue yakini selama ini melihat perkembangan mal di Indonesia). Itu loh, klo kita berjalan melewati pintu masuk mal kita akan langsung ketemu dengan ruangan luas (atrium), kita dapat liat melongok ke atas melihat arus massa di lantai atas begitu pula sebaliknya. Di atrium inilah biasa diadakan event dimana crowd dapet berkumpul dengan leluasa. Ini yang juga tidak dipunyai oleh Metro. Koq mendadak bisa yach naik kategori dari plaza ke mal dalam beberapa bulan?! Menurut penerawangan gue sech, manajemen Metro terlalu panik menghadapi persaingan dengan Duta Mall sehingga di saat dibutuhkan keputusan yang cepat tercetuslah untuk mengganti nama dari plaza ke mal.

Jadi, klo Metro udah memposisikan diri sebagai pusat komputer dan handphone ada baiknya lebih condong menggunakan nama ITC aja dibandingkan menggunakan nama mal. Klo ingin masuk kategori mal, berarti Metro harus memperbesar pusat perbelanjaan mereka dan sesuai dengan definisi mall di atas yang serba lengkap termasuk adanya departement store bukan cuma sekedar pusat komputer dan handphone.

ilamonaPosted by ilamona

No Related Posts

  • Reuni Kecil Berbungkus Buka Puasa Bareng
  • Nameserver is down…
  • Failed
  • How to Create a Live Blogroll
  • Oops! Flickr can’t find a valid callback URL
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

This website uses IntenseDebate comments, but they are not currently loaded because either your browser doesn't support JavaScript, or they didn't load fast enough.

88526 Responseshttp://anomali.net/2007/07/01/dibalik-tiga-nama-metro/Dibalik+Tiga+Nama+Metro2007-07-01+03%3A30%3A43ilamona

« Older Comments
  1. ajie says:
    April 3, 2009 at 5:45 pm

    Walaupun kelihatannya tidak seindah Balikpapan atau Samarinda tetapi saya lebih suka dengan Banjarmasin. Kotanya tampak lebih hidup dan dinamis dibanding dua kota sebelumnya. Walaupun saya di Jawa tetapi saya suka dengan aura kota Banjarmasin.

    Reply
    • ilamona says:
      April 4, 2009 at 5:18 am

      Karna termasuk kota tua kali yah. Kangen ma bjm juga nih.

      regards,
      Dhani Ramadhan

      Powered by Telkomsel eBerry®

      Reply
  2. djian says:
    May 8, 2009 at 4:22 am

    Terutama makanannya………..
    Emang ngalih, bagi kita urang banua asli,……….

    Makan apa haja di perantauan, pina rasa kada pas ha…………

    Pabila ya…………., merasakan nasi kuning, lontong, buras, dsb lagi…???

    Reply
  3. Semuel A. Mamangkey says:
    August 3, 2009 at 6:19 am

    Hi Guys, Ini Uraian sangat bagus, sebagai wujud perhatian terhadap dunia Mall.
    Akan saya jadikan acuan dalam buku saya yang akan segera terbit.Buat mas Ilamona
    Analisanya tajam sekali.Knapa gak dibuat aja buku Bung!

    Reply
    • ilamona says:
      August 21, 2009 at 11:28 am

      Wah klo mo dibuat dalam buku ntar bukunya kirimin buat saya juga yap ;)

      Sent from my iPhone

      Reply
« Older Comments

Trackbacks/Pingbacks

Leave a Reply

Click here to cancel reply.

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>


© Anomali.net 2007-2008, Anomali.net proud to be served by WordPress
Theme: FlickrMac flavored from OSDesigner

אורן יומטוב