
Semenjak kehadiran Mal Duta di Banjarmasin, seolah-olah memiliki daya magnet begitu kuat sehingga dapat menarik masyarakat Banjarmasin menuju mal pertama di Banjarmasin ini. Imbasnya, pusat perbelanjaan lain mulai ditinggalkan dan terlihat saban akhir pekan dimana antrean masuk menuju Mal Duta begitu panjang, sedangkan disisi lain, pusat perbelanjaan yang lain hanya terjadi tren peningkatan kunjungan sedikit meningkat dibandingkan hari-hari biasa.
Salah satu pusat perbelanjaan yang sudah berbenah menghadapi persaingan memperebutkan minat berkunjungan masyarakat di Banjarmasin adalah Metro (nama familiarnya). Saat ini, klo Metro diibaratkan seperti produk sekarang sedang berada di posisi decline pada kurva product life cycle. Biasanya dalam posisi seperti ini, setiap perusahaan harus melakukan rejuvinasi (peremajaan) untuk mengembalikan agar kurva mereka naik atau dalam kondisi growth. Contoh yang paling gres adalah bagaimana manajemen Es Teller 77 meremajakan brand mereka. Nama Es Teller 77 tetap dipertahankan, mereka melakukan peremajaan terhadap logo, menyasar ke segmen young teenagers, program-program marketing yang baru, dan terutama sekali adalah redesign secara besar-besaran semua outlet mereka.
Apa yang dilakukan oleh manajemen Metro? Metro sekarang udah memposisikan diri sebagai “Pusat Komputer dan Handphone“, udah jor-joran mengadakan berbagai even, dan laen-laen (ini udah tepat). Tapi, gue lebih tertarik dengan pergantian nama yang mereka lakukan sebanyak 2x di akhir taon 2006 dan di bulan Juni 2007. Totalnya mereka udah punya 3 nama, 2 udah almarhum yang satu baru aja diluncurin tepatnya tanggal 2 Juni 2007 yang lalu. Mari kita telaah satu-persatu nama-nama tersebut:
Plaza Metro City, sekilas nama ini bener aja malah enak didengar klo disingkat “PMC”. Akan tetapi, klo kita mengacu pada kaedah tata bahasa Indonesia yang menggunakan hukum DM bukan hukum MD (bahasa Inggris), maka klo kita artikan dalam bahasa Indonesia: Plaza Metro City = Kota Metro Plaza. Seharusnya, klo memang ingin ngasih nama dalam bahasa Inggris bukan Plaza Metro City, akan tetapi Metro City Plaza. Coba kita liat penamaan mal di Jakarta: Mal Taman Anggrek, Plaza Senayan, Plaza Indonesia, Mal Kelapa Gading, dan Plaza Semanggi. Semuanya menggunakan kaedah bahasa Indonesia yang benar dalam penamaan pusat perbelanjaan mereka.
Metro HI Center, mulai ngga konsisten pada penamaan ini. Pada awalnya diperkenal denga nama Metro City HI Center kemudian berubah lagi jadi Metro HI Center. Duh, padahal di banyak billboard tertulis Metro City HI Center. Masih menggunakan kaedah bahasa Inggris, lalu kita terjemahkan dalam dalam bahasa Indonesia: Metro HI Center = Pusat Tinggi Metro. Kata “hi”, tidak dipasangkan dengan kata yang lain. Yang dimaksud tinggi disini apa? Apanya yang tinggi? Bangunannya kah?Mungkinkah HI disini maksudnya “High Innovation”? Bisa aja, tp koq saat peluncurannya ngga dibilangin yach.
Metro Hi-tech Mall, hampir bener dalam penamaan. Nama tersebut akan menjadi masalah apabila kita sandingkan antara mal dengan plaza. Plaza dan mal berbeda definisinya dengan shopping plaza dan shopping mall. Plaza dan mal sudah mengalami perluasan makna setidaknya setelah digunakan untuk pusat perbelanjaan.
Selama ini di Indonesia (sepengetahuan gue), masih terjadi salah kaprah dalam penamaan pusat perbelanjaan. Mana yang layak disebut mal? Mana yang disebut layak plaza? Malah banyak orang menilai sebenarnya itu mal tetapi manajemennya tetap lebih suka make nama plaza! Misalnya Plaza Indonesia. Gue yakin antara plaza dan mal tetap memiliki perbedaan.
Yang jadi pertanyaan, layakkah Metro dikategorikan dan menyandang nama mal? Pada saat dalam posisi decline lazimnya suatu perusahaan melakukan rejunivasi menyeluruh, ini yang tidak dilakukan oleh Metro. Rejunivasi yang biasanya selalu disertai redesign secara fisik bangunan atau layout (contoh: Sudirman Place yang sekarang disulap menjadi FX Sudirman). Secara fisik bangunan Metro, kamu bisa liat sendiri ngga ada perubahan fisik bangunan dibanding 3 taon yang lalu. Padahal klo kita melihat definisi mall (Amerika Utara dan Australasia) memiliki arti tempat yang ‘luas’ dalam satu bangunan yang terdiri dari berbagai macam toko, biasanya didukung oleh satu atau lebih departement store yang dikeliling oleh tempat parkir.
Sebuah mal harus memiliki tempat terbuka (walaupun tetap beratap) yang biasa disebut atrium (ini yang gue yakini selama ini melihat perkembangan mal di Indonesia). Itu loh, klo kita berjalan melewati pintu masuk mal kita akan langsung ketemu dengan ruangan luas (atrium), kita dapat liat melongok ke atas melihat arus massa di lantai atas begitu pula sebaliknya. Di atrium inilah biasa diadakan event dimana crowd dapet berkumpul dengan leluasa. Ini yang juga tidak dipunyai oleh Metro. Koq mendadak bisa yach naik kategori dari plaza ke mal dalam beberapa bulan?! Menurut penerawangan gue sech, manajemen Metro terlalu panik menghadapi persaingan dengan Duta Mall sehingga di saat dibutuhkan keputusan yang cepat tercetuslah untuk mengganti nama dari plaza ke mal.
Jadi, klo Metro udah memposisikan diri sebagai pusat komputer dan handphone ada baiknya lebih condong menggunakan nama ITC aja dibandingkan menggunakan nama mal. Klo ingin masuk kategori mal, berarti Metro harus memperbesar pusat perbelanjaan mereka dan sesuai dengan definisi mall di atas yang serba lengkap termasuk adanya departement store bukan cuma sekedar pusat komputer dan handphone.
Walaupun kelihatannya tidak seindah Balikpapan atau Samarinda tetapi saya lebih suka dengan Banjarmasin. Kotanya tampak lebih hidup dan dinamis dibanding dua kota sebelumnya. Walaupun saya di Jawa tetapi saya suka dengan aura kota Banjarmasin.
Karna termasuk kota tua kali yah. Kangen ma bjm juga nih.
regards,
Dhani Ramadhan
Powered by Telkomsel eBerry®
Terutama makanannya………..
Emang ngalih, bagi kita urang banua asli,……….
Makan apa haja di perantauan, pina rasa kada pas ha…………
Pabila ya…………., merasakan nasi kuning, lontong, buras, dsb lagi…???
Hi Guys, Ini Uraian sangat bagus, sebagai wujud perhatian terhadap dunia Mall.
Akan saya jadikan acuan dalam buku saya yang akan segera terbit.Buat mas Ilamona
Analisanya tajam sekali.Knapa gak dibuat aja buku Bung!
Wah klo mo dibuat dalam buku ntar bukunya kirimin buat saya juga yap ;)
Sent from my iPhone